Membaca Berita Sambil Mikir Itu Menjengkelkan

Barusan membaca berita di antaranews.com tentang “Doctor Who” yang merayakan 50 tahun masa tayangnya. Beritanya sederhana, namun ada saja satu bagian yang menjengkelkan yakni ketika pembaca disuruh mikir dan berhitung tahun. Berita yang mustinya enak dibaca menjadi menyebalkan buat pembaca, utamanya yang bego macam aku.

Bagian yang menyebalkan itu ada di paragraf 4 sebagai berikut,

Continue reading

Harapan dan Photografi

Andy Dufresne, dalam The Shawshank Redemption (1994) berkata kepada sobatnya Reds untuk mengingat bahwa Harapan adalah hal yang baik. Mungkin salah satu hal yang terbaik. Hal yang baik, tak pernah mati.

Cerita tentang harapan itu aku suka, bahkan doleh dibilang sangat suka sampai-sampai itu lah yang menginspirasiku untuk terus bertahan di Bali, menyelesaikan tugas dari emak. Ceile, yang syukurnya tuntas pada akhirnya.

Pun begitu dengan photografi. Aku suka dan sempat belajar mendalam tentang itu, sampai kemudian kamera ilang digondol maling, raib sudah pendalaman itu.

Harapan dan photografi pastilah dua hal yang berbeda jauh. Tapi menemukan konteksnya jika disandingkan dengan SBY dan Istrinya, Ani Yudhoyono.
Continue reading

LDR itu Lana Del Rey, Bukan Long Distance RelationSUX

Lana Del Rey at Anfield

Lana Del Rey – Liverpoolfc.com

Belakangan aku suka nyimak lagu-lagu Lana Del Rey di youtube. Lagu-lagunya enak, kalem dan suaranya khas. Yang lebih menambah kesukaan menikmati lagu-lagu LDR, ya begitu Lana suka disingkat namanya, doi adalah Liverpudlian dan beberapa waktu lalu menampakkan diri di Anfield.
Continue reading

Ketika Semua Terasa Buntu

dan melelahkan..atau kau terlalu lelah, pastilah butuh sesuatu untuk bersandar. Tidak hanya raga, batin pun demikian. Kamu pasti merasakan kebutuhan itu. Aku juga.

Namun bagaimana jika tempat atau sosok tempatmu bersandar itu labil, mudah goyah? Jika ada cukup kesabaran, kamu mungkin akan memperbaikinya. Memperkuat dan menstabilkan sandaran itu. Jika tidak? Kemungkinan besar, kamu akan ikutan labil, goyang bahkan ambruk.
Continue reading

Aku ingin kembali menulis

Lama sekali tidak ada sesuatu yang muncul di blog ini. Semua serba senyap dan jika engkau bertanya mengapa, pastilah aku susah menemukan jawaban yang tepat apalagi akurat. Ada sesuatu yang sulit aku jelaskan mengapa ini terjadi. Ide dan pemikiran menjauh, jauh sekali. Rutinitas, pancingan emosi dan mungkin kepedulian menjebak dan meluntur dari hatiku. Aku malas menulis.

Continue reading

Mencoba Nasi Tempong Indra

Tentang makanan, tak pelak nasi tempong merupakan salah satu favoritku. Biasanya, terdiri dari sayuran segar, ikan goreng, tahu, tempe dan sambel yang sangat pedas. Harga nasi tempong biasanya relatif murah dan sangat terjangkau yang mungkin karena murahnya, pedagang seringkali menggandengkannya dengan lauk lain misalnya ikan goreng, lele, ayam atau bebek goreng.

Dua hari lalu, Rabu (13/3), sepulang dari bukit dan hujan-hujanan, aku bersama seorang teman menyempatkan mencoba warung nasi tempong yang sebelumnya belum pernah kusambangi. Ya, kami mampir ke warung Nasi Tempong Indra yang terletak disebuah ruko di jalan Imam Bonjol dekat persimpangan Teuku Umar barat.

Kesannya?
Continue reading

Ahsanu Mudrik, Seorang Teman, Seorang Pembuat dan Peminum Kopi

Malam ini, aku menulis lagi. Bukan tentang apa apa, tapi tentang sesiapa. Tentang seorang teman yang telah mendahului menghadap keharibaanNya. Innalillahi wainaillahi rojiun, 24 Desember 2011, Ahsanu Mudrik telah menghadapmu ya Rabb!

Seorang Mudrik atau yang secara akrab sering dipanggil Godrik, adalah pribadi yang pantas ditulis dan sebagian ceritanya sudah sepantasnya pula diceritakan. Cerita ini, cerita tentang anak manusia yang melalui banyak fase unik dalam perjalanan hidupnya.

Aku mengenalnya ketika ia kali pertama mencatatkan diri sebagai mahasiswa kedokteran hewan di Universitas Udayana. Ia tinggal bersama kakaknya, Wafigni, yang satu kos denganku. Jadi perkenalanku dengan si Mudrik dimulai dari situ.
Continue reading

Jalanan di Denpasar, Waktu Hujan Sore Sore

Sebagian judul tulisan ini diatas diambil dari lagu cantik asal Maluku, Waktu Hujan Sore Sore.

Lengkap lagunya begini,

“Waktu hujan sore-sore kilat sambar pohon kenari
E jojaro deng mongare mari dansa dan menari
Pukul tifa toto buang kata balimbing di kereta
Nona dansa dengan tuan jangan sindir nama beta
E menari sambil goyang badanee
Menari lombo pegang lenso manisee
Rasa ramai jangan pulang duluee”

Sebuah lagu yang indah dan darisana dapat dibayangkan bahwa waktu hujan sore-sore di Maluku, orang-orang menyambutnya dengan suka ria. Menari lombo..sambil goyang badan.

Bagaimana dengan di Denpasar, tepatnya di jalanan di pulau indah ini?

Semrawut dan macet!
Continue reading