Corat Coret

Menulis dan Berkomentar Tentang Apa Saja

May

24

Tongkrongan Malam di Denpasar dari Waktu ke Waktu

Sejak beberapa waktu ini, ada geliat baru di Komunitas Bali Bloger alias BBC, yakni inovasi kegiatan yang belakangan dirasa menurun. Beberapa inovasi itu diantaranya kembali aktif bermain futsal diakhir pekan, kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi yang diusulkan oleh GusTulang dan tematik postingan blog.

Dua yang pertama seperti biasa aku pinter buat alasan, karenanya ga sempet merespon, yang terakhir aku coba berpartisipasi. Tema postingan yang pertama ini cukup menggelitik dan ada kemungkinan untuk melemparku ke berbagai kenangan masa lalu, yakni tentang tongkrongan malam di Denpasar.


Selama tinggal di Bali, lebih dari 13 tahun, ternyata banyak tongkrongan malam kulewati dan kebanyakan berada diwilayah pinggir jalan. Maksudnya, bener-bener dipinggir jalan dan bukan dalam sebuah gedung megah apalagi mewah.

Awal Mula
Awal mula dulu, sekitar pertengahan 90an, pilihan untuk nongkrong malam ngga banyak. Ketika itu, yang utama adalah jalan Gajahmada, seputaran pasar kumbasari. Alasannya sederhana yakni, Penjual nasi Jinggo masih terpusat disana. Bersama kawan-kawan KRI, ketika tengah malam menjelang dan perut keroncongan maka meluncur kesana adalah pilihan yang sulit ditolak.

Biasanya yang nongkrong disana terdiri dari banyak kelompok baik itu remaja maupun orang dewasa. Rata-rata, satu sampai dua kelompok mengkapling satu pedagang nasi jinggo sambil bersenda gurau walau tak jarang ada juga terjadi keributan. Entah karena salah lirik atau ketika datang memang sudah bau alkohol, biasanya ga akan jauh dari itu.

Tongkrongan lain, masih ketika itu, adalah di satu sudut pintu masuk pasar Kumbasari. Jika masuk melalui jalan Gajah Mada, setelah pintu gerbang, dipojok sebelah kiri ada penjual gorengan, bubur kacang ijo dan juga kopi. Biasanya buka lepas tengah malam. Jika pikiran suntuk, nongkrong disana itu asyik. Sambil nyeruput kopi, pandangan ditebar kesekeliling mencuri kecantikan alami ibu-ibu muda yang baru bangun. O ow alangkah indahnya. Begitu juga pemandangan lain yang ga kalah menyegarkan adalah Tukad Badung yang membelah pasar. Adanya kali itu, memberikan ruang pandang yang lapang buat mata yang seharian tertarik dan menegang karena berbagai aktifitas.

Trend Selanjutnya
Masa kemudian, adalah kala geliat kampus mulai terlihat lebih intens. Dua pusat tongkrongan malam yang asyik adalah kawasan PJKA Genteng Biru dan Jalan Nias 13 alias Kampus Sastra. Dua tempat itu, menawarkan suasana rileks dan lepas. Di kawasan PJKA, pilihan menu bervariatif jika menu makanan menjadi tolak ukurnya. Sebaliknya, kawasan Nias lebih terbatas. Tapi, di Nias jauh lebih menarik ketika itu mengingat ragam obrolan yang sangat luas. Mulai isyu politik sampai isyu cewe yang layak digebet ada disana.

Saking populernya kedua tempat itu, kalo misalnya kita mencari seorang kawan di kostnya ga ketemu, segeralah kesalah satu dari dua tempat itu. Yang kita cari akan mudah ditemukan disana atau setidaknya informasi tentang dia kita bisa dapat dengan mudah. Tentu saja, tidak semua orang begitu.

Kopi Pantai Jimbaran
Yang mungkin terlupakan banyak orang adalah kawasan Kedonganan dan Jimbaran. Dulu, kawasan itu terkenal dengan gorengan ote-ote dan kopi hangatnya. Kalo ingin menikmati gorengan enak ditemani kopi panas dalam suasana pantai dan murah meriah, disanalah tempatnya. Memang, karena lokasinya yang jauh dari Denpasar, dengan sendirinya yang nongkrong disana pun terseleksi. Kebanyakan adalah kawan-kawan mahasiswa Unud yang kost diseputaran tempat itu dan di Bukit Jimbaran.

Walau begitu, tak jarang pula banyak kawan dari Denpasar di waktu-waktu tertentu menikmati perjalanan rame-rame menuju Jimbaran hanya untuk mendapatkan cemilan dan suasana itu. Seiring dengan mulai menyebarnya pedagang gorengan di Denpasar, KoPan Jimbaran mulai tergantikan pedagang yang ada di sekitar Denpasar.

Trend Tongkrongan Sekarang
Ketika diatas tadi nulis tentang masa lalu, rasanya lancar dan mengalir. Tapi begitu mulai bicara masa kini, uhm ada rasa tergagap untuk menuliskannya. Gimana bisa? Aku mulai jarang nongkrong malam dan merasa jauh tertinggal. Tongkrongan malam paling nyaman untuk sekarang ini buatku ya cuma satu, jalan Narakusuma nomer 11. Nah, tau kan?

ngaclak
Tapi okay, ada beberapa tempat yang kemudian kuingat mungkin relevan untuk di tongkrongin. Pilihan pertama, Warung Ngaclak di jalan Teuku Umar Barat. Persisnya, diseberang dealer Kymko dan depan Pasundan Gorden. Kalo perut lapar, makan nasi dengan beragam pepes yang ditawarkan rasanya enak bener. Ada pepes lele, pepes tongkol, pepes tuna, pepes lemuru, pepes jamur juga kadang pepes Tawon.

Ga hanya itu, ada juga beberapa jenis makanan khas Banyuwangi macam Angsle dan Ketan Kirep. Angsle ini mirip dengan bubur kacang ijo, hanya saja ditambahi beberapa macam material tambahan lain seperti roti dan ketan. Sementara, ketan kirep itu sendiri adalah ketan yang ditaburi parutan kelapa dan semacam serbuk kacan yang memberi citarasa manis.

Nongkrong disitu, asyiknya kalo pas malam minggu lepas tengah malam. Kenapa? Di kawasan itu pada tengah malam biasanya dipenuhi anak-anak remaja yang ingin menonton atau yang ambil bagian dalam trek-trekan balap motor liar. Normalnya, sampai jam 2 atau jam 3 malam baru mereka akan bubar satu-satu. Warung itu sendiri, bentuknya sederhana hanya berupa warung tenda yang seadanya. Mulai buka lepas maghrib sampai stok abis. Kadang, ga sampai jam 8 malam sudah tinggal satu dua pepes tersisa, kadang sampai larut masih bejibun.

Pilihan kedua masih seputaran Teuku Umar Barat, namun kini lebih tepatnya di Jalan Imam Bonjol. Jika dari arah Teuku Umar (timur), selepas traffic light jembatan itu, belok kiri dikit, disana ada banyak pedagang kaki lima yang buka sampai larut malam. Tempatnya ga terlalu luas, namun cukup menyenangkan ngobrol dengan beberapa kawan sambil nyeruput jahe anget atau minuman lain. Sayangnya, mereka ngga buka sampe benar-benar pagi. Hanya sampe sekitar jam 2 pagi sudah pada bubar, bahkan kalo lagi untung (buat mereka), baru tengah malam stok jajanan dan minuman udah abis.

Nah, karena tadi aku dah bilang bahwa aku tetinggalan kereta untuk urusan tongkrongan malam seputaran Denpasar, ya apa boleh buat, hanya bisa rekomendasikan dua itu saja. Ada satu pilihan lain yang ga kalah seru, itu udah dibahas kawan lain seperti misalnya di daerah Sanglah dan persinggahan abadi, Jalan Nias.

Tongkrongan Versi Bali Bloger Lainnya
Kalo menurut Anton Muhajir, tongkrongan malam yang menarik itu ada di Lesehan Pasar Burung Sanglah. Selain itu juga, sebuah warung Ronde di Kampung Jawa, sedikit sebelum tikungan pekambingan dan kawasan jalan Sulawesi. Secara khusus, Lesehan Pasar Burung Sanglah, kata Anton, mengingatkan pada suasana kawasan Stasiun Tugu di Jogja. Semenarik itukah? Mungkin perlu dicoba.

Lain Anton, lain pula Agung Pushandaka. Agung memilihmenceritakan sebuah kafe dikawasan Sanur sebagai pilihan tongkrongan malamnya. Namanya, Izakaya Cafe & Bar. Tepatnya, ada di belakang Hotel Hyatt. Jika kesana sekitar jam 6 sore, suasana angin terasa semilir ditambah sinar matahari yang tidak lagi menyengat, membuat suasana jadi sangat nyaman. Apalagi ditemani sebotol bir.

Agung memaparkan bahwa kafenya sendiri tidaklah terlalu besar. Katanya, cuma ada sekitar 5 atau 7 meja yang cukup menampung 4 orang dewasa di setiap mejanya. Sementara di bar, cuma ada 2 kursi untuk pengunjung. Yang menyenangkan disana, salah satunya, toilet yang bersih dan secara umum tempat itu memang bersih. Makin malam, suasana makin asyik. Hanya saja, siap-siaplah dengan hawa dingin yang akan merayapi tubuh anda. Selengkapnya apa yang ditulis Agung bisa dibaca di blognya dalam sebuah artikel yang dikasih judul Nongkrong di Pantai Sanur.

Selain dua kawan diatas, beberapa kawan lain juga merespon positif masalah tongkrongan malam ini. Diantaranya, Dek Didi yang merekomendasi enam titik tongkrongan yang menarik. Enam tongkrongan menarik itu adalah Cafe Taji di jalan Hayam Wuruk, Dunkin Donuts Simpang 6, Dapur Alam Jalan Patih Jelantik, Warung Soto Ceker Terpal Kuning di Pasar Kreneng, Forrest Club Renon dan Warung Kopi Bali di Jalan By Pass Ngurah Rai Sanur. Kenapa menjadi favoritnya, silakan simak lebih detail ajakan Nongkrongnya Dek Didi.

Entah ada hubungan apa, tongkrongan favoritnya Didi rupanya juga identik dengan favoritenya I Made Yanuarta.

Sementara itu, Nyoman Suardana menurunkan tulisan dengan judul sederhana, yakni Tempat Nongkrong dan Ngumpul di Denpasar yang dalam tulisan itu dijelaskan bagaimana tempat nongkrong yang menarik buat dia dan beberapa tempat yang direkomendasikan. Sementara Bowo, turut meramaikan dengan menurunkan tulisan berjudul tempat nongkrong. Dalam tulisan itu, ia tidak secara spesifik merekomendarikan atau memilih satu tempat tertentu untuk dijadikan favorit, namun melakukan pengamatan tentang banyaknya pusat perbelanjaan dan mini market yang menjamur, yang secara alami kemudian menjadi tempat tongkrongan.

Kawan, Denpasar telah banyak berubah. Dari kota dengan kehidupan malam yang malu-malu menjadi kota mulai bergeliat malam-malam. Seiring “gelar barunya” kota seribu mini market (maaf ga mau ngiklan), maka kota ini pun kini menjadi kota seribu tongkrongan. Begitulah ceritanya….

—–
update : terjadi kesalah pahaman nama
maaf ya pak nyoman :) *piss*

  • Share/Bookmark

Artikel Yang Mungkin Terkait

  1. Jalan Sehat Subaya Denpasar Sabtu lalu (23/01), bersama tujuh rekan lain, aku menempuh sebuah perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan....
  2. Riuh Papan Reklame di Jalan Teuku Umar Jalan Teuku Umar yang membujur dari arah timur di jalan Diponegoro menuju arah barat jalan...
Artikel ini ditandai dengan tag BBC, Blogger, Seputar Bali, Tongkrongan Malam

13 Komentar

Hi, Bli. sepertinya terjadi kekeliruan :D . tyang bukan Bli Nyoman Winardi. tapi Nyoman suardana aka Baliun. emang sih kita blum pernah ketemu. tapi suatu saat pasti ketemu :D .
oh ya, seperti nya bli tipe kalongers generasi lawas :D
./nyoman

Hehe, sudah diperbaiki Pak. Maaf, masih ngga ngeh orang-per orangnya.

Hi mas! Salam kenal..

Saya dulu malah jarang nongkrong. Mulai belajar nongkrong waktu kuliah di Jogja, makanya baru sekarang bisa nongkrong di Denpasar.

Tapi Mas, saya ndak pernah memilih Izakaya Cafe & Bar sebagai tempat nongkrong. Saya cuma cerita pengalaman nongkrong di sana. Hehe!

Ayo, nongkrong lagi..

@Pushandaka,
iya wes ben ae. yang penting ada ide tongkrongan dulu. Percaya deh, nanti akan dengan segera menjadi tongkrongan favorit :)

Nah, kalo saatnya tiba, waktunya untuk..nodong komisi sama yang punya hehe

tempat nongkrong dibelakang narakusuma 11 (sblh dapur) kok nggak disebut mas.?
padahal kl nggak ada tempat nongkrong itu, semua pasti bingung.
hi.hi.hi..

mmm… iseng coba mas sekali2 dikasih tulisan ditempat itu (belakang pojok, sblh dapur).
tempat nongkrong ini sudah penuh…
mohon cari tempat lain untuk buang hajat.
ha.ha.ha… :lol:

@Yanuar,
Iya emang itu favorit. Palagi buat yang namanya Irvan. Beh..paling betah :) )

wahaha, lucu tuh nyoman baliun bisa ketuker sama nyoman winardi. padahal setauku nyoman baliun tuh adik kelasmu lho, rip. dia anak elektro.

Itu dia masalahnya, aku ga gaul blas :p maklum ya klo ketuker hahahaha

kebetulan ada beberapa temen dr jakarta… sementara saya sendiri orangnya ngga terlalu suka nongkrong, eh… mereka minta diajak jalan2.

enaknya kalo malem ke mana yak?

Cak arif gmn crnxa buat iklan?

Iklan apa fiq? Adsense? ADSpeedy? Tinggal register aja trus nanti dapet code untuk dipasang

O gt cz aq mau masukkan warung aq lewat internet cak.?

Ha? warung? hehehhehee…iku mending nag facebook.com ae, jajalen nggawe trus promosikan disana..luweh banyak temen liat

Tinggalkan Komentar Balasan

icon_wink.gif icon_neutral.gif icon_mad.gif icon_twisted.gif icon_smile.gif icon_eek.gif icon_sad.gif icon_rolleyes.gif icon_razz.gif icon_redface.gif icon_surprised.gif icon_mrgreen.gif icon_lol.gif icon_idea.gif icon_biggrin.gif icon_evil.gif icon_cry.gif icon_cool.gif icon_arrow.gif icon_confused.gif icon_question.gif icon_exclaim.gif