Perjalanan dari kota ke kota, singgah dari terminal ke terminal, itu biasa buat aku. Terlalu sering, dan selalu merangsang hasrat untuk mengulang. Gairah binal, selalu muncul untuk menghadapi hal hal baru dalam setiap tempat itu. banyak hal menarik untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran. Momen sentimentil tak jarang muncul didalamnya.
Demikian pula yang terjadi di Tirtonadi, Solo, dua hari menjelang bulan puasa lalu. Ketika itu, aku baru pulang dari Jogjakarta untuk sebuah pencarian yang belum usai sampai kini, dan terdampar di Terminal Tirtonadi. Saat itu, perasaan sedang kacau-kacaunya, gelisah, suntuk, emosional, dingin dan tertekan. Semua jadi satu.
Terdiam sekian lama, di satu sudt terminal, duduk menghabiskan berbatang-batang gudang garam, terdiam memandang mereka yang lalu lalang, nonton Tv yang ada diruang tunggu dengan pikiran yang ga tentu arahnya. Beberapa kejadian umum terminal terjadi disana, salah satunya, yang jarang jarang dijumpai orang, penggarukan para PSK yang ada berkeliaran disana. Unik dan ramai. Banyak orang berduyun duyun untuk mengikutinya. sampai akhirnya semuanya berlalu, dan aku kembali terdiam.
Terminal mulai sunyi, beberapa orang telah membentangkan kertas koran di pelataran ruang tunggu untuk sejenak (atau semalam?) membaringkan badan disana dan seorang lelaki setengah baya menghampiriku. Namanya? Lupa.
Perkenalan terjadi. Singkat dan tak panjang lebar. Seperti biasa orang berkenalan di terminal, pertanyaannya pun biasa-biasa saja, tentang darimana mau kemana dari mana asalnya, mau ngapain di tempat tujuan,..bla bla bla.
Bapak itu, bercerita bahwa dirinya adalah salah seorang crew sebuah kapal di merauke yang terdampar di darwin dan di deportasi ke Indonesia, dan dipulangkan ke jakarta. lalu berusaha, untuk pulang namun kehabisan ongkos dan nebeng truk demi truk untuk sampai ke Tuban, tempat salah seorang saudaranya tinggal dan minta pertolongan.
Sampai pada satu bagian obrolan itu akan selau teringat, terutama pada saat aku dalam suasana yang sentimentil.
Kutipannya begini,
“Adik asalnya darimana?”, ia bertanya dulu.
“dari Demak pak. Di sebelah utara semarang”.
“yang deket makam wali itu ya?”
“Iya..”
“Saya pernah kesana dulu..ziarah di makam walisongo..”
“Oya? kapan tu pak?”
“ya udah lama se dik..waktu itu rombongan. Adik jauh dari sana rumahnya?”
“Ngga se pak..justru kampung saya ga jauh dari makam sunan kalijogo. satu desa kok..”
” O ya?”
….bla bla bla bla…..
” di demak tu yang paling banyak agamanya apa dik?”
” islam la pak… yang santri banyak.. abangan juga ga kalah banyak..”
” abangan? apa itu..”
” ya islam yang bukan santri.. ”
” ah masa ada gitu..”
” ya gitu yang ada pak..ada yang alim…yang nyantri..ya santri.. yang biasa aja,..islam KTP…abangan..”
” ah saya rasa kok ngga…Islam ya Islam..ga ada abangan, atau santri kalo menurut saya..kan yang menentukan DihadapanNya adalah taqwa kita..”
“iya se pak..”
“adik sholat..?”
“Iya..tapi sering bolong bolong…jarang jarang gitu…”
“kok bisa bolong-bolong..?”
” he eh..sering lupa..pa lagi pas banyak kerjaan..”
“ah..kok bisa lupa…kan ga lama kan sholat itu…ga sampai sepuluh menit dan ga waktu lainnya berlimpah limpah..”
“mmm…”
Ah..sampai disitu yang menurutku cukup untuk dibuka disini…beberapa perdebatan kecil masih terjadi setelah itu, tapi dasar pikiran lagi jutek, nasehat yang baik baik malah terasa seperti jarum yang menusuk nusuk telinga, menyebalkan dan menjengkelkan. Ia membuat kita seolah olah terpojok..dan siapa se yang mau dipojokkan. sampai satu saat kemudian….ia minta uang 500 rupiah, yang katanya untuk beli Bodrek.
Uh..pikiran yang ruwet dan hari yang suntuk memang membutakan semuanya. Besaran yang tak seberapa itu pun aku tolak, dan kuabaikan permintaannya…lalu aku pergi….meninggalkannya dengan kekacauan pikiran yang menggelayut tak tentu arahnya.
Setelah beberapa lama usai kejadian itu, dan ketika hati sudah mulai tenang..kalimat kalimat yang dilontarkan bapak tadi kembali terngiang-ngiang di telinga,…“sholat kan ga lama…dibanding dengan waktu yang diberikan dalam hidup kita,..”
Juga beberapa kalimat kalimat lain yang cukup mengusik, juga tentang permintaannya selembar 500 rupiah. ah….penyesalan selalu datang belakangan…
———————–
Denpasar, 1:02 AM 3/4/03
Catatan: ditulis beberapa tahun lalu, dan pernah di publish di http://ircsmg.blogspot.com


menyentuh…..
[mangkanya solat nya jangan bolong2 ya ..]