Ketika menulis posting pertama di coracoretdotcom edisi baru ini, sempet disinggung tentang pentingnya spontanitas dalam menulis. Kali ini, akan kembali disinggung tentang itu karena sang inspirator, Benito Lopulalan, barusan ngobrol dengan aku dan sempat ngobrolin masalah spontanitas ini.
Pentingnya spontanitas ini, menurutnya karena ketika kita kehilangan itu (spontanitas), kita tak akan bisa berfikir secara bebas. Dan ketika spontanitas itu muncul, menurut dia, kadang kita suka kaget dengan sisi intuitif kita.
Aku setuju banget dengan itu. Ketika beberapa kali menulis disini, atau di blog-blog yang dulu atau kadang di forum-forum tertentu, suka ngga nyadar ternyata sudah berparagraf-paragraf dan anehnya, semua bisa mengalir dan runut. Percayalah, ini terjadi tanpa sepenuhnya disadari.
Seolah-olah, dalam pikiran kita telah tergambar alur akan kemana dan bagaimana bahasa yang akan kita gunakan. Tulisan ini pun begitu, ga pake draft ga pake outline. Spontanitas ini, tentu saja ga serta merta bisa diterapkan dimana saja. Sangat tidak tepat jika kita berhadapan dengan kompleksitas yang tinggi seperti misalnya di tulisan-tulisan ilmiah atau yang bermaksud ilmiah. Kasihan yang ngedit kalo ada editornya, atau kasian yang baca kalo terlalu jauh ngalor ngidul.
Setelah tulisan berhenti, spontanitas pikiran dalam menulis biasanya tidak langsung berhenti disitu. Secara intuitif, setelah itu kita akan mulai mengedit dan melihat lebih detail tentang hal-hal yang sudah ditulis tadi. Misalnya tentang istilah-istilah atau tentang tata bahasa dan kesesuaian pikiran.
Lalu, taukah bedanya ketika sebuah tulisan ditulis dengan spontan dan ditulis dengan outline tertentu? Nyawa tulisannya beda, walau harus diakui jika sebuah tulisan yang dibuat berdasarkan sebuah outline akan lebih terarah. Terhadap tulisan yang sifatnya spontan, aliran sensasinya beda dan mungkin tak semua dari kita menyadari ini, namun sangat bisa dirasakan.
Terkadang, kesalahan tulis, kesalahan ketik juga adalah sisi manusiawi yang cukup menarik dinikmati. O, si penulis mood nya mungkin lagi bagus sampe belepotan menulisnya atau, o si penulis lagi riang sampe mengulang berbagai kegembiraan dihatinya. Menarik kan?
So? lagi lagi diakhiri dengan pertanyaan. Mau nulis spontan? Ya tulis aja, mulai dari apa yang ada dipikiran yang paling sederhana. Jangan mempersulit diri dengan ide yang berat berat kalo tidak sanggup dan berharap terlalu banyak pada harapan akan bagaimana tulisan itu jadinya. Biarin aja apa jadinya toh kata-kata akan mampu menemukan jalannya sendiri dan yang penting, bebaskan pikiran untuk menulis dan ber-ekspresi.
Artikel Yang Mungkin Terkait
- TENTANG KESETIAAN ITU, NDUK Nduk, tahukah kau jika seekor nyamuk pun tak berani mengajakku bergurau..sebab di gelap ini tengah...


enaknya nulis di blog ya itu..tulisan yg blm/ngga layak nampang di media cetak/jurnal/seminar cukup lah mejeng di blog aja
kadang abis nulis (ntah spontan ato ngga) trus baca lg..lho kok saya bs nulis spt itu ya..kaget jg..itu intuitif bukan ya?
maksudnya spontan sebatas mana ya..tanpa diedit? langsung ngetik di editor trus posting gitu? tanpa dibaca ulang? langsung ngetik sambil online?