TENTANG KESETIAAN ITU, NDUK

Nduk, tahukah kau jika seekor nyamuk pun tak berani mengajakku bergurau..sebab di gelap ini tengah kueja sebuah arti dari kata: kesetiaan. Meski ujar orang-orang, kesetiaan di hari ini adalah sebuah kemewahan. Tetapi ucapku: kesetiaan merupakan sebuah keniscayaan dan bukan kemuslihatan picisan jika itu menyangkut perkara antara aku dan dia.

Acapkali aku mendengarkan orang-orang yang datang dari masa yang telah lalu dan membawaiku cerita-cerita tentang sebuah kesetiaan. Tak kuhafal judul yang ada darinya. Tapi syahdan pernah sampai ke telingaku cerita tentang kesetiaaan seorang lelaki yang menunggu kekasih hatinya sampai dia menjadi patung sedang kekasih hatinya yang ditunggunya itu tak datang-datang juga. Sebab katanya, dia sedang pergi untuk membunuh iblis.
Kau, Genduk ayuku, pernahkah kau mendengar cerita tentang betapa setianya kunang-kunang pada malam kendatipun dirinya bertabur hitam? Atau, pernahkah sampai ke telingamu satu cerita tentang setianya seseorang pada kebiasaannya: menulis cerpen, menulis cerpen, dan lagi-lagi menulis cerpen. Apalagi, Nduk?
Sepertinya banyak sekali ragam kelakuan yang kemudian ditengarai menjadi bagian dari cara untuk menyatakan satu kesetiaan.

Pernah aku heran dan lantas kutanyakan kepada hujan yang selalu setia untuk datang di setiap bulan Januari.
“Kenapa mesti di bulan Januari, datangmu itu, wahai engkau hujan?”
“Setiaku tak untuk bulan itu saja kendati aku sedang banyak-banyaknya di bulan itu,” ujar hujan yang mengantarkan basah pada halaman rumahku.
“Itulah yang kumaksud. Maukah kau datang dengan banyakmu itu di awal bulan Mei? Untukmu Genduk sayangku, aku mohon kepada hujan supaya kau rayakan ulang tahunmu dengan bahagia.”,hujan yang selalu kau mau.
Tentu aku inginkan dia datang pada waktu kau berbahagia menghitungi kembali jumlah umurmu. Itu juga, Ndhuk. Tetapi dia tak mau dan menjadikanku dongkol, kendatipun itu hanya sejenak saja sebab akhirnya bisa kusadari kalau itulah yang barangkali dinamakan sebagai sebuah kesetiaan. Setianya hujan pada musim, di luar dari keteledorannya yang datang di saat yang tak tepat. Di luar adat, menyalahi musim
Lantas, masihkah perlu aku jelaskan lagi? Biarlah Nduk, mereka mengejekku, tertawa sinis, meludahiku, menganggapku gila dan aneh tentang perasaanku kepada dia, kekasihku yang jiwaku telah dipinang olehnya. Biarlah ragaku menunggu sejenak tuk mencumbuinya nanti. Kau juga masih meragukan dia kan? walaupun saat ini sebenarnya ingin sekali kusandarkan keresahan hari-hariku kepadamu, tapi sementara waktu aku kan mengurai guratan-guratan rindu disini.

Dan di saat malam yang masih setia antarkan gelap ini, ingin aku pastikan bahwa keniscayaan yang terjadi di antara aku dan dia bukanlah seperti setianya nisan kepada tanah pekuburan.

Nduk..aku mencintainya..cinta berwarna jingga..tulus dari dalam batinku…tolong biarkan aku menyetiainya..
Bontang, Jul 16th
:: *O**** 8/4/2002 10:09:22 PM [+] ::

Catatan: arsip lama, pemilik sah menghilang. yah, aku sedang kangen dia. Maaf