I’m spy..in the house of Love…
Yah, judul diatas aku pinjam secara bebas dari lagunya The Doors dengan judul yang sama. Aku adalah mata-mata dalam sebuah rumah cinta. Rumah indah yang berisi penuh perasaan cinta kasih. Tapi tolong jangan percaya sepenuhnya, dalam tulisan ini aku banyak bohongnya.
Aku tidak pernah hidup dalam sebuah “House of Love”, itu yang benar, karena yang kutinggali hanyalah sebuah gubuk derita. Terutama bagimu wahai pembaca yang sebel dengan tulisanku, yang punya koneksi internet cepat dirumah dan dimana saja, yang tidur telanjang bebas diselimuti selimut tebal dan disejukkan hawa dingin Air Conditioner. Rumahku itu terletak di sepetak bantaran Ciliwung yang keruh. Ya sebuah gubuk berukuran dua setengah kali dua setengah meter, berdempet dengan gubuk satunya lagi yang jadinya seatap. Kalo dilihat dari jauh, ia kliatan seperti satu bangunan yang berdiri sendiri.
Gubuk itu sedikit menjorok ke kali, ditopang bambu-bambu tua yang ditemukan juga di kali sebagai penyangganya. Orang juga suka mengistilahkan gubuk kami ini seperti helikopter. Tak diperlukan dinding mewah ataupun closet mulus karena sambil berdiri pun kami bisa kencing dari dalamnya tanpa perlu menyiram. Disekitar gubuk itu juga ada beberapa gubuk lain. Sudah seperti kampung. Disanalah “House of Love” kami.
Kami? Ya, ini kan kata ganti pertama jamak. Aku tidak sendiri dong? O tentu. Ada dua perempuan dan tiga laki-laki lain yang dengan tak tau malunya tidur saling berhimpitan. Dengan rasa yang penuh kelelahan, janganlah berkhayal kami melakukan hubungan badan rame-rame disana. Kami hanya tidur bersama, paginya cuci muka lalu masing masing pergi entah kemana.
Kebanyakan dari kami pergi kepasar yang ada diseberang sana itu sekadar untuk memunguti beberapa barang yang bisa dicuci dan dibersihkan lagi lalu dijual. Aku juga melakukan hal yang sama, tapi bukan dipasar. Aku melakukannya di tempat-tempat sampah yang orang-orang kota meliriknya pun enggan.
Beberapa kali aku menemukan barang yang bisa kujual lagi dengan harga mahal. Beberapa kali pula aku menemukan bayi. Tak jarang aku menemukan segepok surat cinta penuh rayuan gombal yang tanggalnya sudah sangat jadul. Aku suka sesekali membacanya dan bersama kawan perempuan atau laki-laki lain di gubuk kami membacakan itu keras keras. Banyak diantara surat cinta itu membuat kami tertawa terbahak-bahak. O’ begitu toh orang pacaran. O’ begitu toh orang merayu. Segera kami praktekkan dan canda tawa itu terdengar keras di gubuk kami.
Kalo diantara kami ada yang menemukan bayi, biasanya itu berarti rejeki. Kami tinggal teriak dipinggir jalan ada bayi, maka orang-orang berdatangan. Orang-orang itu menunjukkan sikap peduli. Lalu melempar beberapa koin dan ngasih sumbangan yang biasanya kami lah yang menikmati karena bayi itu sendiri akan diserahkan pada polisi dan setelahnya kami tak tau lagi kemana perginya.
Heran ya? Aku menceritakan ini dengan datar? Haha, di kota yang tak punya hati macam Jakarta ini siapa sih yang mau menggunakan hatinya untuk bicara? Tidak ada. Orang-orang bicara se-enak perutnya. Berlaku se-enak dengkulnya. Ga ada yang dituntun dengan hati. Jadi kenapa pula aku harus pake hati menceritakan temuan-temuan itu. Hati atau lebih tepatnya kata hati itu telah lama mati. Jadi jangan harap lebih. Maaf, jika anda kecewa.
Nah, itu tadi panjang lebar telah kuceritakan tentang “house of Love” kami dan sebagian rutinitas kami. Sekarang, mau tau siapa saja kami? Baiklah setelah ini kuceritakan. Tapi mungkin ga detail, jadi mohon dimaklumi.
Aku adalah satu diantara empat laki-laki yang mendiami gubuk cinta itu. Aku anak yang entah keberapa dari berapa bersodara pun aku ga tau. Jadi, bagian ini di skip saja. Pokoknya, sedari kecil aku hidup dari bantaran kali ke bantaran kali yang lain dan tidak sekalipun bersama mereka yang bisa disebut bapak atau ibu. Ada saja yang peduli dan mau ngurus aku. Aku bisa sedikit membaca dan sedikit menulis. Ini semua karena kelakuanku yang suka malu-maluin.
Sedari kecil aku suka berdiri lama-lama di pinggir jalan hanya untuk mengeja beberapa tulisan papan reklame. Sering aku mencegat orang-orang yang sedang lewat untuk mengajariku bagaimana membaca tulisan yang besar-besar itu. Lama kelamaan aku bisa membaca. Oya, umurku sudah 25 tahun dan aku pastinya masih membujang.
Ok, cerita kulanjutkan.
Lelaki kedua dan ketiga yang bersama kami mereka jauh lebih tua dari aku. Sudah agak sepuh malah, namanya pak Joko. Ia hidup seperti aku karena dulu pernah dijanjikan hidup enak di Jakarta oleh kawan sekampungnya yang mengajaknya merantau ke Jakarta ini. Ternyata, bukannya hidup enak malah ditinggal sendirian di tengah jalan dan akhirnya ga tau lagi harus bagaimana. Di bantaran kali Ciliwung, ia menemukan keluarga barunya.
Sedikit berbeda dengan bapak satunya lagi, pak Dodik. Dia sudah renta. Sempat hidup enak, tapi ditinggal sama anak dan menantunya yang kurang ajar meninggalkannya sendirian dirumah kost yang belum dibayar. Oleh sang empunya rumah, dia kemudian diusir karena ga bisa bayar-bayar. Akhirnya, ya begitulah ia sampai di bantaran kali ciliwung ini. Sehari-hari ia lebih banyak digubuk. Kerjanya membantu aku dan yang lain menata barang barang hasil temuan kami. Dia juga dapat bagian mencuci dan membersihkan satu satu.
Lelaki ketiga, adalah si Joni yang masih sangat muda, baru 12 tahun. Hehe, namanya seperti nama orang gedongan yah? Ga tau darimana atau siapa yang ngasih tau tau datang anak kecil yang kelaperan dan bingung kemana mau pulang. Karena kami tidak bisa membantu banyak, jadilah kami membantu sedikit. Memberikan dia tempat untuk tidur. Eh, dia malah betah. Jadilah dia bagian dari kami.
Nah, sekarang cerita tentang dua perempuan yang bersama kami. Yang pertama, seorang ibu-ibu yang ditemukan pak Joko disebuah tempat, lalu dibawa pulang dan dianggap sebagai istri. Singkat saja begitu. Jadi sehari-hari kerjanya membantu pak Joko nyari mengais rejeki dipasar sebagai buruh angkut. Dia mengangkut apa saja, punya siapa saja yang mau memberi sedikit uang untuknya.
Jadi, ketika tadi kukatakan “House of Love” kami terdiri dari dua gubuk, itu satunya ditempati khusus pak Joko dengan istri temuannya itu. Dan karena menempati tempat khusus, yang artinya sedikit lebih lapang, dibagian itu lah kami menyimpan barang-barang kebutuhan kami seperti beras yang kadang kami beli banyak kalo ada duitnya.
Penghuni terakhir alias perempuan terakhir adalah si Sri. Masih muda, seumuran dengan aku. Dia ini bekas babu di sebuah keluarga kaya. Ia kabur dan memilih menjadi bagian dari kami karena capek, tiap malam ditiduri majikannya dan digaji kecil. Ga setara sama yang dia kerjakan dan dia korbankan. Plus, ia terlalu sering dibentak bentak. Itu menurut dia. Akhirnya dia nggelandang dan nyasar di tempatku. Ia kerja membantu bersama istrinya pak Joko, dan dari apa yang kulihat ia orangnya pasrah saja sama nasib. Begitulah cerita masing masing dari kami yang kuceritakan sesederhana mungkin.
Dengan lingkungan seperti tempat kami tinggal, plus dengan pekerjaan yang kami jalani, hidup kami teramat sangat sederhana. Ya, bilang saja miskin. Memang begitulah adanya. Jadi kami ga pernah yang namanya nonton tivi atau mendengar radio.
Sudah menjadi risiko pula buat kami kadang dipandang sebelah mata atau malah dihina abis-abisan sama orang lain. Si Joni, pernah dikira copet. Ia nyaris saja dikeroyok orang-orang yang marah. Beruntunglah datang seorang bidadari yang dengan segenap hati menyelamatkan si Joni. Joni tidak mencopet, dia hanya kebetulan berada diarah pencopet sebenarnya melarikan diri. Bidadari ini kemudian mewarnai hari-hari kami selanjutnya.
Bidadari cantik itu bernama Lembayung, berumur 21 tahun, seorang mahasiswi, entah dari universitas mana.
Sejak kejadian itu, Lembayung hampir setiap hari datang ke gubuk kami. Tentu saja kami senang atas kedatangannya. Ia sering membawa oleh-oleh makanan yang enak enak. Ia sering berlama-lama ngobrol bersama kami, bahkan sampai larut malam.
Dalam seminggu, ia telah mengenal hampir semua penghuni bantaran kali. Lembayung tidak selalu datang sendiri. Sering, ia mengajak teman-temannya datang bersama. Ini hiburan bagi kami. Kapan lagi ada cewe-cewe cantik mendekat ke kami? Selama ini yang sering terjadi adalah mereka seolah-olah berada diawang-awang jauh dari jangkauan kami.
Tiap datang, Lembayung ngobrol dan bertanya-tanya tentang kehidupan kami, memotret kami dan sesekali memasak bersama kami. Ia, anak kota, mahasiswi mau makan bersama kami? Sungguh menyenangkan kami memiliki seorang bidadari. Si Joni, dihadiahi beberapa potong pakaian dan diajari membaca dan menulis.
Lembayung tidak menunjukkan atau menampilkan dirinya sebagai seorang yang tinggi hati. Ia sangat membaur.
Selama lebih dari dua bulan ia rajin mengunjungi kami. Kami merasa punya teman dari dunia lain. Tapi hanya dua bulan lebih itu saja dia datang. Setelahnya tidak ada kabar sama sekali.
Kami sempat kehilangan dia dan saling bertanya tanya. Tak ada jawaban atas pertanyaan kami. Akhirnya, kehidupan berjalan seperti biasa. Kami bekerja sebagai pekerja yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tak menentu hasilnya. Tak banyak yang berubah kecuali Joni yang sudah mulai bisa membaca. Dan kemudian, dari Joni pula kami tau kenapa Bidadadi cantik Lembayung tak pernah lagi datang.
Secara kebetulan Joni menemukan beberapa lembar kertas putih yang penuh tulisan komputer rapi, salah satu lembar itu bertuliskan besar-besar, KEHIDUPAN KAUM GELANDANGAN DI BANTARAN KALI CILIWUNG, SEBUAH PENELITIAN EMPIRIS. Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memeperoleh Gelar Sarjana Sosial, Disusun oleh Adjeng Lembayung.
Kami, ternyata, selain terpinggirkan dari kehidupan kota, kami juga adalah sebuah obyek penelitian yang diteliti lalu ditinggalkan. Cerita selesai, dan pemberitahuan terakhir, aku kenal The Doors adalah dari si Bidadari itu. Dia lah sebenarnya spy in the house of love kami….
Artikel ini ditandai dengan tag Asal Tulis, Corat Coret

Aiiih.. namaku dicomooot.. hihiihi
Akhirnya ada tulisan yg dikluarkan lagi, sudah lama aku menunggu cerpen2mu..
Tulis lagi yaaa..
*Pengen nulis lagi, tp Sedang sibuk mencari ilham yg lagi melarikan diri dariku nih..