“..the vows of life we make will life until we die…
…my life is yours..
….and all because…
..you came to my world with love
..so softly love “
Hanya lagu itu malam ini? Ada apa?
“Tidak ada. Hanya nada dan suara yang kudengar”
O, begitu?
“Iya begitu.”
Ia seperti tidak mempercayaiku. Tidak mempercayai ucapanku. Ia duduk di hadapanku dan tidak berharap aku percaya bahwa aku percaya kalau ia tidak percaya. Ia tidak menyembunyikan perasaan tidak percayanya itu didepanku. Ia tidak percaya, Ia sudah lelah.
Kau selalu menyimpannya?
“Kau selalu bisa menebaknya. Masihkah perlu kujawab?”
Malam ini aku tidak ingin menebak. Aku lelah. Tidak kah kau lihat kelelahan dimataku?
“Aku melihatnya. Teramat jelas.”
Keriput dikeningnya, guratan-guratan kelelahan menjalani hidup telah tampak dengan sangat jelas. Rasanya, aku pun begitu. Ia jatuh cinta padaku ketika aku menghardiknya. Melamar sebagai sekretarisku, tanpa sekalipun memiliki konsentrasi untuk menatapku.
Klienku, bukan orang-orang yang bodoh. Aku tidak boleh bodoh. Dan aku tidak boleh bekerja dengan orang-orang bodoh. Orang-orang bodoh hanya bisa menghasilkan hal-hal yang bodoh. Tahu kebodohan apa yang kamu lakukan didepan saya hari ini? Ia terdiam.
Baiklah, saya akan telepon kamu jika saya menemukan bahwa kamu yang terbaik.
Ia berdiri, memutar badan. Sesaat, ia kembali berbalik dan menatapku. Lalu berkata,”Anda terlalu tajam untuk saya tatap. Dan saya akan melakukan kebodohan, jika saya lakukan itu”.
Detik itu aku sadari ia telah jatuh cinta, juga bahwa ia tidak bodoh.
“Tidakkah kau simak liriknya begitu indah?”
Keindahan yang melemahkanmu. Kamu masih menyimpannya kan?!
“Iya. Aku masih menyimpannya. Tak kan kulepas, tak kan kubuang.”
Hh..aku memang bodoh, mengira engkau telah menguburnya..
“Tidak, kau tidak bodoh. Kita telah menghasilkan banyak hal-hal terbaik dalam kebersamaan kita. Itu semua, tak bisa dilakukan orang bodoh.”
Aku bodoh, telah berfikir bahwa aku adalah dia yang telah memenuhi dahagamu akan cinta.
“Itu bukan kebodohan. Itu perjuangan. Perjuanganmu.”
Kau bermaksud mentertawakanku?
“Apa kau lihat aku tertawa?”
Lalu apa maumu?
“Apa mauku? Kau ingat kisah Elizabeth yang hebat itu? Ia tidak membunuh pengkhianat yang ia temukan dalam istananya. Seperti juga Caligula yang tetap diakui sebagai salah seorang kaisar Romawi padahal ia adalah yang terburuk? Mereka yang mengingatnya, mereka yang membiarkan pengkhianatan itu tetap hidup memiliki pemikiran yang sama dengan aku. Atau, aku yang memiliki pemikiran yang sama dengan mereka? Atau aku terinspirasi oleh mereka? Bukan masalah penting. Semua kenangan ini tersimpan, agar aku tahu, agar aku tetap paham bahwa aku masih memiliki cinta. Cinta yang tak pernah kudapat dari siapapun. Tidakkah kau biarkan aku menyetiainya?”
Air matanya menetes…bening, membasahi pipi rentanya. Bola matanya berkaca-kaca.
Awal kita menikah, aku percaya aku akan menghadapi malam ini. Aku siap menerima takdirku, bukan menjadi pilihan pertama bagimu. Tapi apakah engkau buta? Cintamu itu tak pernah hadir! Kau berhadapan dengan impianmu yang tiada akhir tentang dia. Aku mencintaimu, tidakkah kau melihatnya?
“Kau berlebihan menyikapi malam ini.”
Kau menggodaku untuk bersikap seperti ini
“Malam ini aku lemah. Kalah terhadap perasaan yang tidak semestinya kubiarkan berkembang. Aku ingin memeluknya.”
Ijinkan aku memelukmu..
“Kau tak memerlukannya,..tak memerlukan ijinku…
Aku suamimu…”
Suamiku? Yang masih mencintai orang lain? Pantaskah itu?
“Dengar dengar. Kenapa ini selalu berulang? Tidakkah kau ijinkan aku memiliki ruang sentimentil dalam hatiku untuk sekadar mengenang cintaku?”
Kau..kau….kau katakan itu ruang sentimentil? Kau munafik. Pedagog! Kurang dari lima menit lalu kau katakan kau memiliki cinta hanya padanya hanya darinya? Cinta yang tak kau dapatkan dari siapapun? Bukankah itu artinya kau serahkan jiwamu padanya? Ia bukan sekadar ruang sentimentil! What a shame!
“Ya Tuhan. Kau cerdas… ”
Sudahlah! Aku lelah!
“Baiklah…aku akan matikan lagu itu. Mari kita tidur…”
Tidur..? Sejak kapan suamiku yang lebih cerdas dibanding aku ini melarikan diri dari masalah?
“Masalah? Berhadapan denganmu adalah sebuah dialektika. Tidak pernah ia menjadi sebuah masalah. Aku tak menemukan sintesa terbaik malam ini. Ijinkan aku istirahat..”
Ok ok. Istirahatlah. Dan ketika kau bangun esok, aku tak ingin melihat ruang sentimentil itu lagi.
“Ketika aku bangun esok..aku ingin menciummu…dan ingin kutemukan mentari dimatamu….”
Mamumu!
“Akan kutanyakan pada mimpiku, apakah engkau benar bahwa impianku adalah salah atau benar…”
Jawaban mana yang kau harap..?
“Kebenaran dan kehadiran yang utuh..tentang impian dan cinta. Peluangmu akan selalu ada”
***
Apa jawaban dari mimpimu?
“Tidak ada mimpi, tak ada jawaban”
Lalu?
“Hatiku yang akan menjawabnya.”
Apa jawabnya?
“Aku telah bodoh. Aku telah buta. Bodoh dengan tetap memelihara perasaan itu dalam hatiku.”
Begitu?
“Iya begitu….atau kamu berharap jawaban lain?”
Tidak. Malam lalu pun aku bertanya pada hatiku. Semua yang kau inginkan itu wajar. Ruang sentimentil untuk mengenang dia. Aku yang berlebihan.
“Begitu…?”
Ya, begitu…selama ruang itu hanya perselingkuhan hati dan perasaanmu. Akan kuijinkan.
“terima kasih..”
Apa agendamu hari ini?
“Menari….”
Menari…?
“Bersamamu……aku ingin menari bersamamu..hanya itu. Kamu?”
Menelanjangimu!
Denpasar, 15:24 19/02/2005


bagus ceritanya.
Salam kenal ya.