Suatu sore, lebih dari 5 tahun lalu aku berkesempatan singgah di kediaman Gus Dur di Ciganjur yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Bersama seorang kawan, Asep Kurniawan, kami kesana. Tujuan kunjungan kesana bukanlah ingin menemui Gus Dur melainkan ingin bersilaturahmi dengan seorang kawan aktifis PMII yang menjadi asisten Gus Dur, cak Munif.
Ketika kami disana, Gus Dur sedang tidak ada dirumah. Beliau pergi untuk sebuah acara. Kami, Aku dan Asep duduk di sebuah bangku yang tersedia di teras rumah Gus Dur. Bersama kami juga, sedang menunggu seorang tamu lain yang setelah saling ngobrol dan berkenalan, Bapak itu merupakan salah satu pengurus NU di daerah yang ingin bersilaturahmi dengan Gus Dur.
Setelah sekian waktu menunggu, akhirnya kami bertemu dengan cak Munif yang ketika itu sedang sibuk di dalam. Entah apa yang dikerjakannya, aku ga tau. Lalu kami mulai ngobrol sana sini, tentang aktifitas PMII, tentang isyu-isyu yang sosial politik yang berkembang ketika itu dan tentu saja tentang Gus Dur.
Obrolan menarik dan berlangsung cukup lama, sampai beberapa saat kemudian tampak sebuah mobil datang memasuki halaman rumah. Rupanya, Gus Dur sudah pulang.
Turun dari mobil, Gus Dur dipapah seorang putrinya dan keponakannya, Syaifullah Yusuf ( Gus Ipul) memasuki rumah. Gus Ipul sempat menyapa kami sebentar lalu mengikuti pamannya masuk kedalam. Demikian juga Cak Munif.
Tinggalah di teras itu aku dan Asep bersama seorang tamu lain. Selang sebentar cak munif keluar lagi untuk minta maaf tak bisa menemani ngobrol lebih lanjut, karena kesibukannya dimulai lagi dengan kedatangan Gus Dur. Maka kami pun permisi pulang.
Kenangan itu cukup singkat. Nyaris tak banyak hal yang berarti disana, namun bagiku sebuah makna tak tertulis kudapat.
Ketika turun dari mobil tadi, Gus Dur tak begitu berdaya bahkan untuk berjalan sendiri. Untuk turun dan memasuki rumahnya, Ia musti dipapah. Terlihat jelas bagaimana penglihatannya yang tidak begitu baik. Sebelumnya, aku hanya tau dari televisi atau dari koran yang memuat fotonya.
Banyak pikiran kemudian berkecamuk dalam benakku. Orang, dengan kondisi fisik yang tidak mandiri seperti Gus Dur, masih tanpa lelah berfikir untuk negeri ini. Tanpa lelah, membela mereka yang tertindas. Tanpa lelah berfikir dan memperjuangkan keadilan bagi semua orang. Sungguh, melihat fakta itu jadi malu sendiri dibuatnya. Apa yang kulakukan untuk negeriku?
Gus Dur, tak pernah takut untuk berbeda pendapat. Ia selalu tegas mengemukakan pendapat yang diyakininya benar. Kebenaran yang selalu dia bela.
Keberpihaknnya pada kamu lemah dan minoritas tak perlu diragukan lagi. Ia berteman dan menjalin hubungan baik dengan tanpa membedakan agama suku ataupun bermacam-macam pembeda lainnya. Ia menjadi tempat mengadu semua orang yang terzalimi. Tak kurang seorang Inul Daratista.
Disisi lain kepalaku, Beredar pula pikiran yang jengkel kepada lawan-lawan politiknya. Ko ya’o, tega menuduh Gus Dur korupsi, terlibat skandal ini itu kala pemerintahannya. Dimana mata hati mereka itu? Bahwa pernyataan-pernyataan politik Gus Dur sering menuai kontroversi memang benar, tapi untuk terlibat skandal-skandal yang begitu hina? Masya Allah.
Untuk diingat, pada masa pemerintahan Gus Dur berbagai fitnah muncul. Mulai dari tuduhan korupsi, ngenthit uang rakyat sampai skandal punya istri lain dan maniak sex bermunculan. Semua begitu menghina dan nista. Dan pada akhirnya, Gus Dur digulingkan dari tampuk kepemimpinannya. Sungguh begitu butakah mereka hanya karena berseberangan secara politis?
Kini, Gus Dur telah pergi.Selamat jalan Gus Dur.
Artikel ini ditandai dengan tag Gus Dur

sungguh tak berdaya hambamu ya allah….
Manusia yg kau ciptakan di muka bumi untuk menjadi seorang pemimpin tawakal dan pasrah kepadamu kini telah tiada….