Ngobrol dan mengumbar impian adalah sesuatu yang menyenangkan. Malah bisa dibilang teramat sangat menyenangkan. Terkadang kita suka dibuat lalai pada urusan-urusan lain yang boleh jadi jauh lebih penting jika dibanding dengan obrolan dan mimpi-mimpi itu.
Lalu, apakah obrolan dan mengumbar impian itu tidak penting? Tidak juga, karena jika anda membaca lebih lanjut akan ada sebuah obrolan menarik dan beberapa impian untuk negeri ini, Indonesia.
Disebuah tempat yang tak perlu dijelaskan sepasang kekasih sedang memadu impian. Yok, kita simak.
“Sayang, kapan aku dilamar?” Sang gadis mulai bicara pada kekasihnya.
“Aku ga tau. Banyak hal yang masih mengganggu pikiranku cinta. Aku malah ga yakin akan melamar kamu…,”Si cowok, kekasihnya menjawab dengan datar.
“Lho? Kok gitu? Kamu ga serius ya sama aku? Kamu main mainin aku!!,” si Gadis tampak emosional.
“Bukan Gitu. Justru aku sangat sayang dan mencintai kamu. Aku ga ingin kehilangan kamu sedetik pun. Bahkan ketika kelak aku berbaring menjelang ajalku, aku ingin hanya kamu yang meletakkan sekuntum melati di pusaraku.Kala aku sakit, kala aku sehat, kala aku bahagia juga kala aku susah, aku hanya ingin menjalaninya bersamamu. Aku ingin kamu selalu disampingku. Walau kalo sakit tentu saja dokter yang menangani.”
“Lalu apa yang merisaukan hatimu?” Antara tersanjung dan penasaran, si Gadis bertanya dengan menurunkan nada bicaranya.
“Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah Blog, tulisan kawanku si Anton tentang pemulung yang dimana-mana dilarang masuk. Aku risau dengan itu.”
“Ya ampun. Hanya karena pemulung yang dilarang masuk kamu sampai berfikir tidak melamar aku?”
“Tunggu dulu. Jangan keburu menyela wahai perempuan berhati lembut. Tunjukkan dong kelembutanmu pada pembaca.”
“Ngerayu!!”
“Apa perlu dirayu lagi?”
“Udah udah, trus gimana tadi?”
“Cerita tentang pemulung tadi, buatku menyiratkan banyak hal untuk kamu tahu”
“Apaan tu?”
“Kita hidup dalam masyarakat yang tidak sehat. Masyarakat yang tidak mau memberi ruang berusaha, ruang untuk mengais rejeki pada sesamanya.Masyarakat kita cenderung paranoid pada sesamanya”
“Bukannya yang kayak gitu banyak? Aku sering kok liat dimana-mana pemulung dilarang masuk”
“Justru itu. Bisa ga kamu lihat dari sisi lain? Mereka dilarang masuk karena mereka tak tertata, tak terorganisasi dengan baik. Jika saja ada kelompok masyarakat yang peduli untuk meluangkan waktu membantu mereka dengan misalnya mencatat dan mendaftar dari mana mereka berasal, dimana mereka tinggal, niscaya pemulung-pemulung itu akan merasa diperlakukan dengan hormat dan tak akan terjadi hal-hal negatif yang ditakutkan. Maling misalnya”
“Iya yah. Seandainya ada yang peduli. Tapi apa hubungannya dengan kamu tidak melamar aku?”
“Aku tidak ingin kita hidup dan tinggal dalam masyarakat yang tidak sehat. Aku pengen membina rumah tangga dan mendidik anak-anakku dengan sehat, dengan semangat yang tinggi untuk maju.”
“Anak-anak kita”
“Iya ya..anak anak kita”
“Kita kan bisa pindah ke Amerika sayang, kalo kamu berfikir bahwa di Indonesia banyak masyarakat yang ga sehat?”
“Itu bukan solusi cintakuu…ih kamu ni pikirannya praktis praktis aja”
“Trus gimana?”
“Kita bisa kok berusaha untuk merubah pandangan orang-orang itu untuk peduli pada sesamanya, pemulung itu misalnya..”
“Masaa…”
“Iyaaaaaaaaaaaaa….huhhhh”
“Gimana caranya..?”
“Kita bisa looh, bergabung dan menghimpun temen-temen yang berfikiran sama, kita lakukan pendekatan pada pemuka masyarakat, trus kita kampanyekan tentang kepedulian pada sesama, jika itu terjadi alangkah indahnya. Tentu bukan hanya pemulung yang akan dipersilakan masuk. Usaha-usaha orang lain pun akan dipersilakan masuk juga, misalnya pedagang keliling. Ini juga ga jauh beda lho dengan pemulung. Banyak tempat mereka dilarang masuk. Padahal bisa jadi usahanya itu untuk menopang kehidupan keluarga. Banyak manusia tergantung didalamnya. Jadi sayang, ketika aku bicara tentang pemulung, itu bukan berarti melulu hanya pemulung. Banyak nilai lain dibaliknya.”
“Sudah?”
“Belum. Masih banyak lagi. Tapi ya itu, kepedulian sesama. Jika kita acuh tak acuh pada sesama, hidup individualis, apa gunanya kita? Kita masih makhluk sosial looohh…”
“Iya yah, aku ga kepikiran sejauh itu. Ih yayangku pinter dehh….”
“Iya dong…”
“Trus apa lagi? Apa kamu berharap menjadi pahlawan dengan melakukan itu?”
“Aduh cintaku…kenapa juga kamu mikirnya begitu. Jangan disempitkan kearah itu dong. Lihat skala yang lebih luas. Melakukan hal baik kan tidak untuk jadi pahlawan atau ingin dipandang prang. Melakukan itu ya karena memang itu perlu dilakukan.”
“Iya deh iyaa..trus apa lagi yang mengganggu pikiranmu sampe ga yakin untuk melamar aku?’
“Banyak yang lain sebenarnya, tapi tulisan ini akan jadi panjang kalo semua kutulis..”
“Diringkas dong sayang..”
“Tau ga cinta. Aku sedang memimpikan sebuah keindahan lain tentang negeriku Indonesia”
“Apa itu?”
“Melihat mal-mal dan dan retail-retail besar hanya ada di ibu kota propinsi….”
“Hah…? Kok mikir kesana?”
“Iya…mereka itu pemodal besar. Kalo mereka sampe masuk ke tingkat kabupaten, apalagi kecamatan dan desa, trus dimana peluang pasar-pasar tradisional kita bertahan? Ga ada kan? Pasar tradisional kita udah kalah telak di ibukota negara. Terabaikan di ibukota propinsi, lha di desa desa masa harus kalah juga. Jangan sampai dong ahh…”
“Emang apa yang menarik dari pasar tradisional sayang…?”
“Sayang, pasar tradisional itu adalah kekayaan kita. Salah satu peluang bagi banyak rakyat negeri ini untuk berusaha, mengadu nasib. Disana juga, tak melulu hanya kegiatan komersil. Pasar tradisional juga adalah media sosial yang ampuh. Media bersosialisai yang menyehatkan. Jangan salah lho, para pedagang pasar itu tak melulu memandang satu sama lain sebagai kompetitiornya. Mereka saling membantu, saling meringankan beban satu sama lain.
Setahuku, rata-rata pasar tradisional memiliki ikatan kekeluargaan yang tinggi. Mereka punya paguyuban dan selalu menolong sesamanya yang kesusahan. Jadi bisa dibayangkan betapa sayangnya jika itu semua tergusur dan kalah dari pemodal besar.”
“Tapi disana becek, cenderung kotor dan kumuh..”
“Itu bukan alasan untuk menggusur mereka…”
“Trus ide kamu?”
“Mustinya anggota DPRD daerah-daerah lain itu melakukan kunjungan kerja ke Bali. Bukan
ke luar Negeri…”
“Kok ke Bali? Apa hubungannya…apa mereka kamu suruh berjemur di pantai Kuta atau Dreamland?”
“Ya enggak lah…”
“Trus apa?”
“Di Bali itu sayang, banyak contoh tentang pasar tradisional. Tau ga, di setiap desa, mereka punya yang namanya Pasar Adat. Itu pasar tradisional yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat secara alami dan di terima semua kalangan masyarakat. Ngga orang gedongan, ngga orang pedesaan, suka sekali dengan namanya Pasar Adat. Karena dekat dengan lingkungan mereka dan rata-rata tertata rapi.
Selain tentang pasar Desa Adat, di Bali juga ada yang namanya pasar senggol. Biasanya buka malam hari dan menampung beragam pedagang kecil. Ini bagus untuk ditiru daerah lain. Daerah lain cenderung menganggap pedagang kecil itu musuh yang harus di uber-uber, dianggap merusak pemandangan kota dan tak jarang terdengar dijadikan sapi perahan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Tapi di Bali tidak. Pedagang kecil diarahkan disatu lokasi tertentu untuk berjualan. Mereka dilindungi dengan baik, dipungut retribusi yang jelas. Dan semua itu kembali ke mereka juga, dalam bentuk adanya keamanan yang terjamin dan tidak merasa risau atau merasa diuber-uber dalam berusaha. Begitu cinta,..”
“Iya yah..memang harusnya begitu. Dan ini kan kembali ke idemu yang tadi, tentang kepedualian sesama dan memberi peluang yang sama untuk berusaha.”
“Tepat! Pinter kamu. Trus, pernah kamu mikir tentang sebuah impian untuk negeri ini
sayang?
“Pernah see..tapi ga dalem dalem banget…”
“Misalnya?”
“Aku kadang kepikiran tentang remaja. Mereka itu kan calon penerus bangsa yah. Di tangan dan pundak mereka kelak negeri ini akan diserahkan..”
“Betul! Lalu?”
“Lalu aku berfikir rasanya musti ada ruang untuk mereka berkreasi, ruang untuk mengembangkan diri agar tidak salah jalan. Tidak merusak diri mereka sendiri dengan hal-hal yang ga perlu..”
“Misalnya?”
“Yah, rasanya perlu itu ada informasi yang jelas untuk remaja tentang bahaya-bahaya yang mengancam masa depannya, seperti agar menjauhi narkoba, tidak menyia-nyiakan waktu dan tidak melakukan sex bebas….”
“Sex Bebas?”
“Iya, free-sex, sex sebelum nikah..dan hal hal sejenis..”
“Ih sayang..kamu naif deh…”
“Naif? Maksudmu?”
“Lha kamu pikir kita ini lagi gimana? Seharian booking kamar. Udah berapa kali coba tadi, kok sekarang kepikiran tentang jangan melakukan sex bebas, sex pranikah…malu tau…”
“Ow ow oww…..iya yah…hehe”
“Udah gini aja, pake baju mu kita pulang…”
“Ha? Trus mau ngapain? Masa kamu ga mau lagi?”
“Ngga untuk sekarang! KIta pulang, kerumahmu…”
“Mo Ngapain?”
“Aku akan melamar kamu ke orang tuamu….biar kita segera nikah dan sah kayak ginian…”
“Sungguh…?”
“Apa kamu mau aku berubah pikiran?”
“Tau ga aku cinta banget sama kamu….”
“Aku pastinya lebih dari itu aku sangat sangat mencintaimu…”
Denpasar, 8:03 PM 2/6/2009
Artikel ini ditandai dengan tag Impian, Indonesia

postingan ini buat lomba blog bugiakso ya? hehe sipp bro… true story gak nehh??