Senin (7/6) lalu, datang dua buah buku yang kupesan dari Irviyanti, seorang gadis cantik di Bandung. Judul buku itu, “Sebelah Mata“, penulisnya banyak orang, isinya beragam ekspresi dan opini dari para penulisnya, dicetak dengan sederhana, namun punya tujuan dan niat yang luar biasa mulia.
Aku yang belakangan ini terhitung jarang membeli buku , tidak mampu berkata tidak atau menunda untuk segera memesan setelah Irvi memaparkan latar belakang dan tujuan penerbitan buku yang sampulnya tampak disamping ini.
Sebelah Mata, diterbitkan oleh sekelompok anak muda yang menamakan diri “Komunitas Sebelah Mata“. Komunitas ini merupakan “anak kandung facebook”, yang sering berdiskusi dan berinteraksi melalui notes dan mencetuskan ide untuk berbagi dan peduli pada sesama. Kata mereka, sebagaimana aku kutip dalam prakata, mereka adalah sekumpulan teman yang berteman dan ingin berbuat sesuatu untuk mereka yang membutuhkan, terutama anak-anak.
Untuk mewujudkan niat itu, mereka menerbitkan sebuah buku kompilasi yang menggunakan konsep shodaqoh!
Bagaimana teknisnya?
Untuk mengisi content buku, mereka mengumpulkan banyak notes (juga blog Vi?) yang dirasa cukup mencerminkan cara pandang anak muda dalam memaknai dunia(nya). Lalu, harga jual buku ini tidak dipatok pada harga yang tertentu seperti halnya di toko buku konvensional. Kita hanya perlu menghitung berapa banyak nilai rupiah yang ingin disumbangkan.
Sederhananya, anda hanya perlu membayar ongkos produksi ditambah ongkos kirim dan nilai shodaqoh yang anda ingin tambahkan. Misalnya, jika ongkos produksi buku ini 10 ribu rupiah, anda bisa dan dipersilakan membayar berapapun diatas jumlah ongkos tersebut. Berapapun kelebihan yang anda berikan, itu akan menjadi nilai shadaqoh anda, dan komunitas ini kelak yang akan menyalurkan. Begitu ringkasnya.
Apa saja didalamnya?
Cukup Banyak. Total jendral ada 12 tulisan yang ditulis 12 nama yang berbeda. Masing masing dengan gaya bahasa yang unik dan tingkat kedalaman yang beragam.
Ke-duabelas judul tulisan itu antara lain Ceracau Tentang Kematian (Kiki Raihan), Mimpi Indah (M. Fajri Siregar), Warisan (Dbaonk), Saya Harus Menyebut Profesi Kalian Apa?? (Lucky Kyko), Si Aku, Si Mbah Surip dan Segelas Kopi Hitam (Luc Del Mar), Prespektif Alternatif Part XVI : “Saya Gila, atau Gila?!” (Koben De Bast Ard), Pendekar Sufi (Nadzir Albanna), Kenapa sih Gak Boleh Becanda Pake Kata “Autis Lo!”? (Silly) Jangan Main-main dengan Narsis-mu (Radnan Akyara), Di Batas Tepi Hari (Teuku Aditya Oktafiano), Things in a Day (Astri Widiyastuti) dan satu yang paling kusuka, Tuhan, Maafkanlah Candaan Saya (Nila Nurul Hidayati).
Kritik
Sebenarnya, aku ga pengen melontarkan sebuah kritik terhadap buku ini karena pada frame yang lebih besar, apa yang ada ini telah lebih dari cukup daripada tidak melakukan aksi sama sekali. Hanya saja karena si Irvi sms dan minta dikritik, maka lahirlah bagian kritik dalam tulisan ini.
Kritik pertama adalah karena komplainnya mataku terhadap ukuran font yang tidak konsisten. Untuk yang satu ini, aku agak sensitif karena mata ini dari dulu punya kecenderungan manja. Malas menghadapi teks yang ga nyaman dilihat, apalagi kekecilan.
Kritik kedua adalah banyak hal-hal kecil dan mendasar yang terlupakan dari beberapa penulisnya. Ini bisa dimaklumi mengingat, seperti juga dijelaskan pada prakata buku ini pula, bahwa para penulis yang menyumbangkan karyanya adalah penulis “amatir” di rimba maya yang sebelumnya belum pernah menerbitkan sebuah buku.
Kekurangan-kekurangan itu misalnya, lupa mencantumkan tanggal seperti pada tulisan pertama, Ceracau Tentang Kematian. Kalimat pertamanya begini, Gempa 7.3 SR yang tadi siang mengguncang Jakarta mengingatkanku pada sebuah kejadian di minggu lalu.
Gempa 7.3 SR yang mengguncang Jakarta itu kapan ya? tadi siang? Seingatku tadi itu bukan siang, karena tadi itu malam mengingat ketika aku menulis ini sedikit lewat tengah malam. Atau mungkin yang dimaksud siang tadi? Uhm, dari berbagai portal berita yang kusimak, siang tadi itu tidak ada gempa yang terjadi di Jakarta. Tanggal kejadian itu justru kemudian aku dapatkan pada sebuah catatan di halaman lain, jauh dibelakang tulisan ini (hal. 88). Jika tulisan itu muncul dalam sebuah notes atau blog mungkin masih bisa dirunut kapan persisnya kejadian itu. Tapi dalam sebuah buku yang tidak ada tanggal penerbitannya? Jangan biarkan pembaca bertanya-tanya terlalu banyak.
Kekurangan lain dalam pendapatku adalah penggunaan kata ganti orang pertama alias penulis sendiri yang kupikir berlebihan. Ini terdapat di banyak tulisan. Akibatnya “rasa” tulisan itu tidak natural dan menjadi alasan aku menulis “nya” dalam tanda kurung pada pada paragrap 4 diatas. Terlalu banyaknya kata ganti orang pertama ini menunjukkan seolah-olah penulis cenderung terlalu subyektif dengan hanya melihat persoalan dari kacamatanya sendiri saja dan malas melihat dari kacamata orang lain. Selain juga hal ini menunjukkan kesan “show off” ego yang berlebihan.
Kritik lain adalah masalah rujukan. Dari 95 halaman yang ada di buku ini, kulihat hanya dua tulisan yang mencantumkan sumber rujukan atau pemilik aslinya. Pertama pada lead tulisan yang berjudul “Mimpi Indah” yang mengutip lirik lagunya Radiohead, Nicedream dan kedua pada tulisan “Saya Harus Menyebut Profesi Kalian Apa?” yang mengutip arti PSK dari wikipedia.org. Selebihnya, tidak ada rujukan, tidak ada sumber yang bisa memberi pengayaan informasi. Bahkan, untuk tulisan yang agak berat seperti “Pendekar Sufi” pun, tidak ditemukan adanya rujukan yang bisa menjelaskan asal usul kutipan-kutipan didalamnya, padahal isinya banyak yang mustahil didapat tanpa mengutip tulisan atau narasi yang pernah ada sebelumnya.
Masalah kutip-mengutip ini buatku sangat penting untuk menghormati penulis dan pemikir sebelum kita, juga merupakan etika penulisan yang baik dan santun dan bukan membuat seolah-olah kita telah menghasilkan pikiran besar padahal hasil dari kutip sana kutip sini.
Okay, menulis review dan kritik selesai. Kritik-kritik diatas dituliskan semata mata untuk memberi masukan alias feedback agar kedepan bisa makin baik. Selanjutnya, untuk Komunitas Sebelah mata, selamat berkarya dan melahirkan karya-karya hebat lainnya. Allah SWT bersama orang-orang yang menempuh jalan kebajikan. Amin!
—-
Catatan tambahan:
—-
- Informasi Selengkapnya tentang Buku Sebelah Mata beserta Komunitas Sebelah Mata, bisa merujuk pada http://bukusebelahmata.wordpress.com/
- Buku Sebelah Mata bisa diikuti pula perkembangannya melalui twitter, https://twitter.com/BUKUSEBELAHMATA

