Jalan Teuku Umar yang membujur dari arah timur di jalan Diponegoro menuju arah barat jalan Imam Bonjol, merupakan satu jalan vital bagi kota Denpasar. Di sepanjang ruas jalan itu terdapat beragam jenis tempat usaha seperti kawasan kuliner, pertokoan handpone, perbankan, sampai hiburan malam.
Lalu lintasnya? Jangan tanya. Ia bisa digolongkan sangat padat, tak kalah jika dibanding berbagai ruas jalan utama lain yang ada di kota Denpasar ini. Bahkan disaat-saat tertentu ia bisa menjadi teramat sangat padat. Bukan lagi sangat padat. Hal ini mengindikasikan bahwa jalan Teuku Umar itu berarti penting bagi kota Denpasar.
Dengan peran pentingnya itu, plus ia juga merupakan salah satu akses dari dan ke pusat pariwisata Kuta, patut disayangkan penampilannya tak begitu nyaman dipandang. Bukan karena kotor atau tak terurus, tapi melulu karena begitu banyaknya papan reklame yang tak beraturan disepanjang ruas jalan itu.
Papan reklame yang semrawut menutupi keindahan bangunan-bangunan pertokoan yang ada dibaliknya. Lebih buruk lagi ia memberi kesan wajah kota yang tak tertata. Sungguh kontras dengan program pemerintah kota yang ingin menjadikan Denpasar sebagai kota budaya dan telah mempromosikan wisata kota sebagai sebuah daya tarik wisata.
Kesemrawutan papan reklame itu akan makin terlihat ketika kita melintas disekitar simpang enam. Pada radius 100-200 meter dari sana, kepadatan papan reklame itu begitu terasa. Juga, terasa berlebihan mengingat satu toko atau satu jenis usaha bisa memajang dua atau lebih papan reklame. Sepertinya, pemilik usaha tak terlalu peduli dengan bagaimana wajah kawasan itu akan terlihat. Mereka lebih peduli untuk menyenangkan sponsor atau menunjukkan ego usahanya. Ada papan reklame yang begitu tinggi menjulang, ada pula yang ala kadarnya.
Alangkah eloknya jika itu semua lebih tertata dan didesain secara elegan. Tak perlu seragam, namun tertata dan mengikuti sebuah kaidah-kaidah yang disepakati bersama.
Jikalau wajah ruas jalan itu lebih tertata, tentulah makin nyaman kita disekitarnya. Bangunan dan arsitektur yang indah bisa lebih leluasa dinikmati tanpa terhalang papan reklame yang berlebihan.
Artikel Yang Mungkin Terkait
- Jalan Sehat Subaya Denpasar Sabtu lalu (23/01), bersama tujuh rekan lain, aku menempuh sebuah perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan....



Pajak reklame merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah ( PAD ), pun demikian seharusnya pengaturannya harus lebih ketat supaya lebih rapi dan tertib tentunya. Saya yakin ada perda yg mengatur tentang hal ini, hanya saja
Petugas biasanya kurang tegas didalam melaksanakan suatu perda dilapangan. Penerapan sangsi kadang tidak konsekuen sehingga banyak pelanggaran. Sebagai daerah tujuan wisata seharusnya Pemkot memberi perhatian khusus pada penataan kawasan supaya
Tetap tampil cantik dan teratur. Mengejar target PAD sah-sah saja, tapi tetap harus memperhatikan etika dan estetika suatu kawasan. Jln. Teuku umar dulu terkenal dengan centra kuliner, banyak rumah makan khususnya chenees food di kawasan ini, tapi sekarang sudah
Agak bergeser ke kawasan renon dan Teuku Umar sekarang dipenuhi dengan pertokoan.
Salam kenal,
Dirga.