Pernahkah Anda membaca atau mendengar sebuah kisah seorang ibu yang bertanya pada anaknya tentang bagian mana dari tubuhnya yang paling penting? Jika belum, baiklah, sebagai pengantar akan diulang singkat kisah itu.
Tersebutlah seorang ibu yang bertanya kepada anaknya bagian mana dari tubuh sang anak yang paling penting. Pada masa kecil, si anak tak mampu menjawab. Ia berulang kali memberi jawaban yang tidak memuaskan sang ibu. Pertanyaan itu terus diulang pada tahap-tahap tertentu usia si anak sampai ia bisa dikatakan dewasa. Pada tahap kedewasaannya sekalipun, si anak ternyata masih belum mampu menjawab dengan benar dan pada akhirnya si Ibu memberikan jawaban atas pertanyaan seumur hidup itu.
Taukah apa jawab si Ibu? Bagian penting tubuh kita adalah bahu. Karena semakin seseorang itu kokoh, disanalah banyak orang akan bersandar. Dalam susah dan senang.
Kutipan cerita diatas itu sederhana. Lalu, apa hubungannya dengan judul tulisan ini, menyikapi kawan curhat? Kawan, ada beberapa kondisi dimana kita akan menjadi “sasaran” curhat kawan kita. Beberapa diantaranya adalah jika kita dipandang kuat, mampu menjadi sandaran yang baik dan terpenting, mampu menjadi pendengar yang baik. Disinilah perumpamaan bahu yang kuat itu mempunyai tautan dengan bagaimana kita menyikapi kawan yang curhat.
Disekolah, kita tak pernah diajarkan mendengar. Hanya membaca. Karena itulah, orang yang bisa mendengar yang baik secara alami akan menjadi orang terpilih, untuk curhat sekalipun.
Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapi kawan yang curhat?
Kawan yang curhat adalah kawan yang sedang butuh teman bicara, butuh sosok berlindung atau butuh sosok pendengar atas masalah atau keluhan yang sedang dihadapinya. Ketika itu terjadi dan ia datang kepada Anda, tentulah ia berfikir bahwa anda memenuhi kualifikasi untuk menjadi tempat mencurhatkan isi hati.
Disana, secara tidak langsung Anda sudah sepatutnya berbangga hati. Bahwa, diantara sekian banyak kawan dari si kawan tadi, anda terpilih untuk berbagi kisah.
Apa yang semestinya dilakukan kemudian?
Ikuti saja situasi yang ada. Curhat seseorang, biasanya akan berhubungan dekat dengan kemampuan anda menjawab persoalan. Sangat kebangetan jika anda yang tidak mengerti soal bagaimana membangun sebuah proyek, dicurhati masalah proyek. Walau, memang, kemungkinan itu masih mungkin terjadi. Disitu, mungkin anda hanya diposisikan sebagai sasaran uneg-uneg saja dan tidak diharapkan untuk memberikan sebuah solusi.
Mendengar dengan baik dan tidak memotong pembicaraan kawan curhat juga adalah langkah bijak. Lalu, lanjutkan saja dengan merespon sesuai kemampuan anda. Jika memang anda menguasai dengan mendalam topik curhat tersebut, kenapa juga tidak memberikan pemahaman atau memberi masukan yang mendalam dan tidak asal bunyi? Tak kalah penting juga kita perlu menegaskan bahwa respon itu semata-mata pendapat pribadi yang bisa jadi salah atau tidak akurat. Pertegas pula tentang niat anda yang semata-mata berniat membantu dan mendengar, tidak sebaliknya mencampuri atau merasa sok pintar pada kawan curhat tersebut.
Bagaian penting dalam merespon kawan yang curhat adalah memberikan motivasi-motivasi dan menyemaikan optimisme untuk mampu menghadapi persoalan yang ada. Tidak selalu harus menghasilkan sebuah solusi yang jitu, namun ide-ide positif dan kreatif tentang bagaimana mengatasi persoalan pun akan membuatnya bahagia dan tujuannya tercapai. Dengan sebuah pencapaian baru, walau hanya dalam hati, langkah kaki seseorang akan lebih mudah melangkah kedepan.
Menghentikan Curhat Beruntun
Sekali dua kali, jika ada seorang kawan curhat, rasa bangga dan bahagia terpilih menjadi rekan berbagi itu terasa betul didada. Namun, cerita akan terbalik jika curhat yang dilakukan kawan tersebut sifatnya berulang dan tak berkesudahan. Kebosanan yang akan menggantikan rasa bangga tersebut.
Kemungkinan itu terjadi karena salah satunya adalah bahwa kawan tersebut tidak sepenuhnya menjalankan atau beritikad menyelesaikan persoalan tersebut. Ia lebih memilih hidup bergumul dengan persoalan dan merasa puas jika ada yang mendengar persoalannya. Ia, mungkin merasa bahwa ia adalah satu-satunya kawan yang perlu diperhatikan, yag butuh didengarkan atau ia merasa sebagai makhluk paling menderita dimuka bumi ini. Ia, tak menyadari bahwa penderitaan itu ada dimana-mana sama banyaknya dengan kebahagiaan.
Jika sudah demikian, bersikaplah tegas. Stop curhat dan sampaikan bahwa anda juga punya banyak urusan dan masalah yang harus diselesaikan. Waktu ga akan menjadi produktif hanya mendengar orang curhat. Tekankan dan ingatkan kawan tersebut agar mencoba dan melangkah sendiri. Berikan motivasi bahwa ia mampu mengatasi dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Cerita tentang perkembangannya, bolehlah dibagi lagi.
Artikel ini ditandai dengan tag Curhat, Perkawanan

gimana kalo kawannya itu suruh buat blog khusus curhat, jadi dia khan bisa dapat pendapat yang berasal tak hanya dari satu kepala *grin*
anyway ak suka bagian ” Ia, tak menyadari bahwa penderitaan itu ada dimana-mana sama banyaknya dengan kebahagiaan.”