Menghadapi Suami Tertekan Menurut Alissa Wahid

Banyak mungkin diantara kita tak menyadari bahwa info yang baik-baik itu banyak beredar di dunia maya, tidak melulu tentang Video Itu! Bersyukurlah kita, masih banyak orang yang memiliki kompetensi yang baik dan membagi ilmunya melalui jejaring sosial, salah satunya Twitter. Dalam kapasitas 140 karakter, dengan sendirinya info yang disebar sangat ringkas, tapi disitulah intinya. Tak perlu basa basi ngolah kata bersayap.

Salah satu yang beberapa hari ini kusimak adalah kuliah twitter (kultwit, singkatnya), yang sampaikan oleh Alissa Wahid. Topiknya sederhana, tentang #suamitertekan (Baca: Suami Tertekan alias Suami yang sedang dalam tekanan). Oya, untuk yang belum tau, Alissa Wahid adalah salah satu putri Almarhum Kyai Wahid, aka GusDur. Ibarat pepatah, buah ga jatuh jauh dari pohonnya, gaya bahasa Alissa ini pun sederhana. Jadi ga perlu mengeruntukan dahi kala menyimaknya.

Lalu, apa dong isi kultwit #suamitertekan itu?

Menurut Alissa, menghadapi suami yang lagi underpressure alias sedang tertekan, yang bisa jadi ada berjuta alasan untuk itu, merupakan satu hal yang susah-susah gampang dalam menghadapinya. Karena susah-susah gampang itulah banyak perempuan yang terpeleset menghadapinya. Akibatnya, banyak masalah lain yang muncul. Bagi “istri pemula“, peran sosok mentor sangat penting untuk memahami bagaimana dinamika seorang laki-laki.

Kebutuhan terbesar laki-laki adalah di hormati alias harga diri. Semua diukur dr sana. Tekanan untuk dia jadi laki-laki sejati sangat kuat. Hargadiri laki-laki diukur dari kbhasilan di karir, uang, istri. Karena itu kebanyakan laki-laki merasa perlu pegang kendali atas hal-hal itu.

Sumber harga diri pertama untuk laki-laki adalah penghargaan tanpa syarat dari istri. Bukan cinta yang loveydovey, tapi justru penghormatan Istri yang bisa menumbuhkan harga diri suami akan membuat suami punya kekuatan untuk mengeluarkan yg terbaik dr dirinya di luar. Sebaliknya, cinta 1/2 mati pun, kalau istri sering mengkritik suami walaupun dengan niat baik, maka harga diri suami akan hancur berkeping-keping.

Kalau ada masalah yang sedang menjadi beban pikiran suami, baik itu masalah karir, keuangan atau pun masalah sosial, seorang istri akan menjadi faktor penting. Istri bisa ikut (makin) menghancurkan, atau justru sebaliknya menjadi sumber energi baru.

Pada saat seorang suami tertekan, ia akan mencari kendali. Kalo moralnya ok, ia melarikan diri ke hobi (hal yg bs dikendalikan). Kalau katakanlah sebaliknya, bisa Mo5, bacanya mo limo sebuah kiasan jawa yang berarti bisa main judi, main cewek, madat (ngobat), mabuk, maling. Bodoh? iya. Tapi ini semua untuk mengembalikan sense of control.

Suami tertekan juga bisa resort to domestic violence. Ya karena ia mau tunjukkan bahwa dia lah yang pegang kendali. Mau dimana lagi mendapatkan ini dengan paksa?

Intinya, Suami tertekan perlu mengembalikan hargadirinya, dengan cara apapun. Ciri atau gejalanya bisa macam-macam antara lain diam atau tidur, sibuk dengan hobi, mo5, atau bahkan ngamuk!

Istri bisa bantu suami tertekan dengan membantu dia mengembalikan hargadirinya. Caranya mulai dengan memahami kondisi suami dan tidak menambah tekanan.

Istri perlu hindari kata-kata “seharusnya”, “kamu sih”, “jgn blablabla”, “sbg laki-laki” dan lain-lain yang justru merendahkan suami tertekan. Hal itu justru akan menjadi bumerang.

Suami tertekan justru perlu dengar kata-kata yang mengembalikan hargadiri. Ia perlu istri bersikap tenang, supanya ia bisa juga tenang dan berpikir jernih.

Suami saya bilang, saat tertekan ia butuh dilayani atau diperlakukan seakan semua hal biasa aja, tidak dikejar-kejar bicara atau cari solusi. Seringkali niat istri baik, mengingatkan atau membantu. Tapi itu bikin suami tertekan makin merasa dianggap nggak mampu. Meradanglah..

Oya, saya ingat tanya mentor “Pak, kalo emang suami salah, kan hharus diingatkan?” karena menurut saya suami waktu itu salah.

Jawabnya, “kamu ingin nunjukin kamu bener dia salah, atau ingin kondisi berubah?” Ternyata nggak sama tuh. Ouch!!

saya nggak bilang suami boleh menang sendiri, tapi kita perlu cari cara yang efektif kalo kita ingin kondisi berubah. Menyalahkan sama dengan memperburuk (mental) suami tertekan.

Wis, pokmen (apa artinya ya – jowo timuran?) istri bisa bantu suami tertekan melewati masa suram dengan cara memberi ruang untuk dirinya, bersikap tenang dan beri dukungan kata-kata yang sifatnya empowering. Dan satu lagi, suami tertekan biasanya butuh sering-sering ditemani dan dilayani di kamar tidur bener nggak, bapak-bapak?

Nah, kawan, ketika membaca rangkaian twit dari Alissa, dalam hati tanpa terpaksa, mengatakan uhm..banyak orang butuh info beginian. Tak banyak orang beruntung bisa memperoleh info beginian. Jadi, sepintas kemudian terbersit ide untuk nge re-post twit tersebut dalam sebuah tulisan di blog. Hehe, ini juga mungkin alasan karena beberapa waktu terakhir ini buntu ga tau musti ngeblog tentang apa.

Penulisan di blog ini telah melalui ijin Twit dari Alissa, dan katanya, ga pake lisense segala. Jadi, anda bebas menyebarkan untuk tujuan apapun. Silakan.

Oya, sekadar info selain AlissaWahid, banyak juga sosok-sosok lain yang tak pelit berbagi ilmunya seperti misalnya Goenawan Mohamad dan Ahmad Gozali. Nah, dari pada online sekadar chitchat yang ga jelas atau main catur doang (ini ke si arif), menyimak info-info yang berkualitas dari sumber-sumber tersebut rasanya jauh lebih baik. Minat? Follow mereka donk, jangan follow saya ;)

Belum punya twitter? Ya ampun…bikin deh situ :)