Pernah membaca sebuah novel pengantar filsafat berjudul “Dunia Sophie” karya Jostein Gaarder? Jika belum tak mengapa, aku hanya ingin mengutip satu bagian menarik pada salah satu halamannya.
Disatu halaman novel itu diceritakan sebuah perumpamaan bahwa setiap makhluk hidup itu dilahirkan di ujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut, dimana mereka berada dalam posisi untuk mempertanyakan kemustahilan tipuan-tipuan pesulap yang mengeluarkan kelinci itu dari sebuah topi. Namun ketika mereka bertambah umur mereka sibuk menyelusup semakin dalam ke balik bulu-bulu itu. Dan disitulah mereka tinggal.
Mereka begitu nyaman sehingga tidak mau mengambil risiko untuk memanjati kembali bulu-bulu halus itu. Ya, mereka terlena dengan kenyamanan sehingga apa yang terjadi diluar kelinci itu tidak lagi menarik bagi mereka. Mereka yang tetap berusaha memanjat dan mengabarkan berita-berita baru dianggap hanyalah pembuat onar kemapanan dan bisa digunakan kata lain melawan kemapanan yang telah diciptakan.
Kutipan cerita diatas pada versi asli bukunya bertujuan untuk menggambarkan bagaimana posisi seorang filosof yang terus mencari dan bertanya tentang apa dan bagaimana kebenaran diluar dari apa yang sudah mereka kenal. Para filosof itu menghadapi banyak tantangan dan bantahan dari pihak-pihak yang terusik eksistensi atau kemapanannya karena temuan itu.
Pada tulisan ini, aku ingin menarik garis sepadan dari cerita diatas pada sesuatu yang nyata disekitar kita. Bukan kebetulan tulisan ini berangkat dari persoalan serupa yang dihadapi seseorang disana. Bukan tentang filosof versus kaum mapan, ini tentang penggalan kisah hidup seseorang anak manusia dengan cita-cita dan kebahagiaan hatinya yang ditentang orang tuanya.
Alkisah, ehm, ada seorang anak muda yang memilih jalan hidupnya sendiri yang seperti mungkin sudah diduga, berlawanan dengan keinginan orang tuanya. Ia, sebut saja Lily, meninggalkan pekerjaannya yang membosankan disebuah kantor megah untuk bersama kawan-kawannya merintis sebuah usaha bersama berupa event organizer di kota kecil, kota kelahirannya.
Yang lily inginkan adalah ia dapat melibatkan sebanyak mungkin mereka yang tak terpilih oleh kepentingan dan syarat-syarat modenrnitas yang meminta terlalu banyak syarat untuk terlibat. Ia ingin melibatkan sebanyak mungkin mereka yang tersisih menjadi suatu sosok yang bernilai dan tidak lagi dipandang sebelah mata.
Dipekerjaan sebelumnya, bisa dikatakan Lily tidak kekurangan suatu apapun baik itu dari sisi penghasilan ataupun fasilitas penunjang pekerjaannya. Semua tercukupi, semua terpenuhi. Selain serba terpenuhi, Lily juga mendapat restu penuh dari orang tuanya.
Sangat membahagiakan bukan?
Bagi orang lain mungkin iya. Tapi rupanya tidak bagi Lily. Dari banyak inspirasi yang diperolehnya, ia menyadari bahwa ia punya keinginan lain yakni mandiri. Ia ingin menggaji orang dan bukan digaji orang. Ia juga ingin hidupnya penuh dengan aktifitas yang melelahkan tidak melulu duduk manis dibelakang meja pergi pagi pulang sore, rutin dan monoton. Kesimpulan yang dia ambil adalah bahwa hidupnya akan lebih bermakna dengan mengambil pilihan jalan baru ini.
Atas pilihannya ini, ia mengadapi tantangan berat dari orang tua yang tak lagi merestui langkahnya. Si Ayah ingin ia terus bekerja dikantor yang mapan itu. Bagi si Ayah pilihan barunya terlalu beresiko dan tidak jelas masa depannya. Tidak jelas pula peluangnya. Tapi Lily terus berkeras hati dan ia juga dihadapkan pada beragam konsekuensi lain termasuk berdusta pada kekasihnya.
Kekuatan cinta kasih tak mampu menghentikannya dari niat untuk membuka usaha itu. Cukup dramatis eh?
Begitulah adanya. Lily meninggalkan semua yang selama ini membuatnya nyaman dan mengejar kebahagiaan hati dan memenuhi dahaga cita-citanya. Ia memilih mengambil risiko dengan memanjat kembali bulu-bulu lembut kelinci untuk melihat dan menjelajahi ruang lain yang lebih luas dan megah.
Jika situasi tersebut, kemauan orang tua untuk mapan dihadapkan pada keinginan Lily untuk mandiri, disodorkan kepada kita, dimanakah posisi kita? Mendukung penuh ataukah berpihak pada kemauan orang tua untuk mapan?
Tak ada kata atau ucapan lain buatku yang lebih tepat untuk Lily, selain rasa hormat dan salut atas keberaniannya memilih jalan hidup mandiri. Yah, aku mendukung dia.
Apakah ini berarti aku mendukung dia untuk melawan orang tua? Uhm..ini sama sekali diluar konteks melawan atau tidak melawan. Ada kepercayaan dalam hatiku, bahwa orang tua sebenarnya akan berbahagia jika anaknya sukses, terlebih bisa mandiri. Hanya saja, pada tahap awal, pada masa transisi, perasaan khawatir orang tua itu meraja. Ketika mereka merasakan sebuah kemapanan yang hangat, mereka tidak ingin merusak itu dengan sesuatu yang buat mereka asing. Mereka tidak siap melihat anaknya tidak mapan. Itu saja.
Pada tahap tertentu nantinya, orang tua pastilah sampai pada titik berfikir yang melihat bahwa apa yang diperbuat anaknya adalah cerminan dari diri mereka sendiri. Mereka akan bilang,“Ah..aku dulu juga begitu”, walau kalimat itu tak selalu terungkap atau mungkin saja terlambat diungkap.
Sebuah contoh pernyataan sayang orang tua yang terlambat ditampilkan dengan indah dalam karakter orang tua Neil Perry dalam film Dead Poet Society.
Dalam film itu diceritakan Neil Perry selama hidupnya baru satu kali itu menyadari apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya, setelah mendapat sebuah pencerahan intelektual yang membebaskan pikiran, yakni ia ingin menjadi aktor dan berpentas. Sialnya, keinginan itu bertolak belakang dengan kemauan orang tuanya. Namun Neil tidak kehilangan akal dengan memalsu segala berkas perijinan agar ia diterima dalam sebuah kelompok teater. Ia ingin menjadikan hidupnya luarbiasa.
Tentu saja, ketika saatnya tiba orang tuanya mengetahui ini, murka lah mereka. Usai pentas pertama dan terakhir, Neil dijemput pulang untuk segera dikirim ke sekolah lain yang jauh lebih ketat. Namun rupanya Neil Perry mempunyai pilihan lain. Ia membebaskan dirinya dari belenggu orang tua lewat sebutir peluru yang diarahkan ke kepalanya.
Tangis orang tua Neil Perry, teriakan sayang-sayang itu kemudian terlambat. Neil telah membebaskan diri dan meninggalkan mereka.
Tak hanya orang tua yang mempunyai kemungkinan terlambat. Mungkin, suatu ketika pula si Lily-lah yang terlambat menyadari bagaimana membahagiakan orang tuanya. Mungkin juga, Lily terlambat menyadari kualitas cinta kasih dari kekasihnya dan baru ia sadari setelah misalnya kekasihnya itu mati ditengah jalan tertabrak truk atau mati ditendang kuda.
Nah, apapun itu, keberanian memilih, keberanian untuk merdeka adalah sebuah pilihan terhormat. Waktulah kelak yang akan menguji pilihan hati Lily. Lily, jangan takut terus memanjat bulu kelinci itu!
Artikel ini ditandai dengan tag Lily

Aku ingin seperti lily, yang berani menjadi berbeda di tengah keseragaman..