Corat Coret

Menulis dan Berkomentar Tentang Apa Saja

Jun

8

Kembali ke masa lalu terus, kapan lompat kedepan?

Seorang kawan pernah berkomentar tentang sebuah metode mempengaruhi atau menyadarkankan seseorang, bahwa yang terbaik adalah dengan membawanya ke suatu masa atau gambaran situasi yang sepenuhnya berbeda dengan apa yang seseorang sebagai target itu biasa hadapi sehari hari. Situasi itu sebaiknya menarik, asing dan belum pernah dialami sebelumnya. Kata kawan itu, imajinasi tentang situasi baru tersebut dapat membuka mata hati mereka yang menyimaknya.

Salah satu situasi menarik yang seringkali digunakan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi orang lain adalah memori masa lalu. Mengindentifikasikan diri sebagai sosok serupa dalam memori itu atau berada pada pihak yang sama. Dari sana diharap imajinasi pihak yang ingin dipengaruhi itu dapat dikuasai untuk selanjutnya ditanamkan pengaruh-pengaruh yang sudah direncanakan.

Soesilo Bambang Yudhoyono bersama Boediono selaku Capres dan Cawapres pada pemilu 2009, membawa imajinasi pendukungnya tentang momen sejarah dan suasana Indonesia menggugat. Mereka memilih Bandung tempat sejarah itu terjadi, sebagai tempat pendeklarasian pencalonannya.

Hal yang sama dipilih Capres dan Cawapres lain, M Yusuf Kala dan Wiranto yang memilih tugu proklamasi sebagai tempat pendeklarasian pencalonan mereka. Mereka ingin membawa dan membangkitkan memori pendukungnya pada semangat proklamasi.

Sementara Megawati dan Prabowo, Capres dan Cawapres lainnya, tidak menggunakan momentum pendeklarasian diri sebagai media untuk menarik membawa pendukungnya pada sebuah memori tertentu. Mereka ingin menjadikan momen pendeklarasian diri  sebagai momen identifikasi dan persenyawaan antara pihak yang membutuhkan dan yang dibutuhkan.

Namun bukan berarti Megawati dan Prabowo tidak mengidentifikasikan diri pada masa lalu. Mereka memilih momen peringatan Harlah bapaknya, Bung Karno, pada 6 juni dengan melakukan pidato politik di Rengasdengklok. Bukan sebuah pilihan tak terencana mengingat peristiwa Rengasdengklok merupakan satu momen penting sebelum proklamasi kemerdekaan 1945.

Nah kan, semua Capres dan Cawapres menggunakan momentum masa lalu untuk membangkitkan memori dan identifikasi diri terhadap makna-makna penting di masa lalu itu. Anehnya, identifikasi yang mereka ambil sebenarnya mempunyai keterkaitan satu sama lain yang kuat. Dari rentang waktu berturut-turut Indonesia Menggugat, Rengasdengklok lalu Proklamasi. Akankah ini merupakan sinyal pasangan Jusuf Kala-Wiranto akan menjadi pemuncak tahta kekuasaan yang akan datang? Atau SBY-Boediona yang akan terus bertahta mengingat ia mengambil momen pertama dari rangkaian sejarah penting itu? Entahlah, saya bukan cenayang.

Lalu, jika masa lalu telah dipilih dan dimasuki, bahkan dirasuki, bagaimana dengan masa depan? Sudahkah itu juga menjadi pilihan yang indah untuk ditawarkan?

Sejauh ini, ketika para calon itu bicara tentang masa depan, hal-hal yang dibicarakan melulu sesuatu yang sifatnya retoris dan mengawang-awang. Sesuatu yang tanpa dijanjikan dalam sebuah kampanye pun adalah sesuatu yang sudah semestinya dilakukan para pemimpin dan pengambil kebijakan penting tersebut. Menghapus utang, membangkitkan ekonomi kerakyatan dan lain lain adalah cerita lama yang selalu muncul dalam masa pemilu. Setelahnya selalu terlupakan dan rezim baru yang berkuasa itu sibuk memperkuat kekuaasaannya dan kalo bisa mempertahankan seumur hidupnya.

Ketika dikatakan apa yang para calon itu sampaikan sebagai sesuatu yang sifatnya retoris dan mengawang-awang adalah mengingat tidak adanya wacana yang nyata dan detail dengan parameter-parameter yang jelas yang bisa diperdebatkan secara terbuka. Bicara pada tataran konsep besar, yang pastinya perlu banyak pendetailan itu, semua orang mungkin bisa. Tidak perlu seorang calon presiden untuk bicara itu.

Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di Perancis misalnya. Seorang kandidat calon presiden ketika itu memaparkan langkah-langkah strategis yang akan diambilnya jika ia terpilih. Dari situ pemilih tahu persis apa yang dia akan dapatkan jika memilih kandidat itu. Pihak yang suka akan tanpa ragu memilihnya, sebaliknya yang keberatan bisa melakukan perdebatan dan mungkin kompensasi yang pantas.

Begitu juga Barack Obama. Ia memang mengidentifikasikan diri pada sosok-sosok hebat di masa lalu seperti Abraham Lincoln. Tapi, ia juga menawarkan langkah-langkah jelas untuk masa depan negeri itu. Apa yang akan dia lakukan dibidang kesehatan misalnya atau apa yang akan dia tawarkan kepada dunia yang kala itu tak ramah pada negerinya. Ada identifikasi masa lalu, ada langkah yang jelas di masa depan. Semua jelas dan rakyat pemilih tahu apa dan bagaimana pilihannya kelak bekerja.

Dua ilustrasi diatas begitu indah, namun sayangnya itu hanya terjadi di dunia luar sana. Tidak atau belum di negeri tercinta kita Indonesia. Para calon pemimpin kita lebih suka berdiri dibawah bayang-bayang masa lalu dibanding mengepalkan tangan maju kemuka. Mereka mempengaruhi pemilihnya dengan identifikasi dan memelihara memori masa lalu yang diragukan bisa keluar dari bayangan itu.

Jika terus menerus kembali ke masa lalu, kapan bangsa ini melompat jauh kedepan dan berada pada barisan terdepan diantara bangsa-bangsa lain di dunia?

  • Share/Bookmark
Artikel ini ditandai dengan tag Capres, Cawapres, Masa Lalu, Memori

1 Komentar

Trackbacks & Pingbacks

Manohara, Prita Mulyasari dan Ruang Pengap Ekspresi | Corat Coret

[...] orang dari bangsa sendiri yang kemudian hanya menyisakan kepengapan ruang ekspresi bagi rakyatnya. Akankah kita terima itu semua? Artikel ini ditandai dengan tag Kebebasan Berpendapat, Manohara, Prita Mulyasari [...]

Tinggalkan Komentar Balasan

icon_wink.gif icon_neutral.gif icon_mad.gif icon_twisted.gif icon_smile.gif icon_eek.gif icon_sad.gif icon_rolleyes.gif icon_razz.gif icon_redface.gif icon_surprised.gif icon_mrgreen.gif icon_lol.gif icon_idea.gif icon_biggrin.gif icon_evil.gif icon_cry.gif icon_cool.gif icon_arrow.gif icon_confused.gif icon_question.gif icon_exclaim.gif