Corat Coret

Menulis dan Berkomentar Tentang Apa Saja

Jan

24

Jalan Sehat Subaya Denpasar

Jalur OrangeSabtu lalu (23/01), bersama tujuh rekan lain, aku menempuh sebuah perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan. Perjalanan, jalan kaki dari Subaya, 30km utara Kintamani, menuju Denpasar yang diperkirakan secara keseluruhan perjalanan ini akan menempuh kurang lebih 100km. Perjalanan ini, ya..jalan sehat ini, merupakan sebuah upaya kawan kita Hendra WS, yang bernazar akan berjalan kaki Subaya-Denpasar, jika seorang kawan lain, Dan Sidartha menikah. Nazar itu diucapkan lebih dari dua tahun lalu, dan beberapa waktu lalu Dan Sidharta benar-benar menikah. Maka, perjalanan ini adalah sebuah upaya yang mesti dijalani.

Aku sendiri, ketika tahu ada nazar itu, tanpa ragu berteriak,..“Count me IN!!” dengan tanda seru banyak, yah…aku pengen ikut. Sapa coba yang mau kehilangan sebuah kesempatan indah menikmati sebuah perjalanan bersama, dengan kedua kaki, membelah alam Bali yang eksotik itu. Tak kan kusia-siakan kesempatan ini, maka walau ada perubahan jadwal, kupastikan aku akan terlibat didalamnya.

Malam Sebelumnya
Rangkaian perjalanan dimulai dari Denpasar Jumat malam(22/01), ketika kami berangkat dari kantor BOC membelah malam menuju Subaya. Bebek goreng dan sambel yang lumayan pedas membekali perjalanan menembus pekatnya malam itu. Dalam rombongan itu Aku, Hendra, Mbak Shinta, Uchi, Mas Herman, Berry, Lian dan Shiro Bucks yang tak hentinya berkicau.

Bayangan tentang perjalanan yang menyenangkan esok hari, tentang Subaya yang teduh dan kamar pembantaian di rumah mas Ary Wangsa serta kicauan Shiro Bucks silih berganti muncul dikepalaku. Juga, beberapa memory dari lagu-lagu yang diputar sebuah stasiun radio yang menemani kami dalam perjalanan itu. Entah apa yang ada dipikiran Hendra dan kawan lain, aku ga tau. Yang mungkin bisa ditebak adalalah tentang kapan Shiro ini berhenti berkicau! Haha..

Sesampainya di Subaya, seperti biasa, listrik mati. Yah, entah kenapa setiap aku berkunjung ke desa ini, listrik selalu mati. Cerita tentang rumah mas Ary yang sudah dialiri listrik hanyalah cerita yang sering kudengar dari Onon kalo dia pulang dari sini. Aku, ga pernah ngalami itu! Selalu gelap dan hey…inilah yang kucari dan kusuka dari tempat ini, jauh dari modernsme yang melelahkan. Semua natural dan alami!

Di rumah Mas Ary, telah tiba terlebih dulu beberapa kawan lain yang berangkat terpisah menggunakan sepeda motor. Mereka adalah Noviar, Nonok, Ivan, Sarka dan Pacoel. Arak sudah beredar menemani mereka? Itu pasti. Dalam hawa dingin perbukitan Kintamani, arak memang kawan baik yang tak perlu diusir.

Selang sebentar setelah rombongan kami tiba disana, datang juga rombongan lain. Hanya dua orang isinya, tapi dua orang ini sangat penting mewarnai malam di Subaya. Dan Sidartha dan mantan pacarnya, Mbok Kadek. Hehe, sekarang mereka sudah menikah, jadi pastilah bukan pacaran lagi. Dari pacar, status telah diubah menjadi mantan pacar, dan sekarang statusnya adalah Istri! Yuhuu,…

Lalu, mulailah suasana khas Subaya ketika kami semua berkumpul disana. Ceria, penuh senda gurau dan selalu ada obyek penderita yang musti bernyali kuat. Malam itu cerita tentang Pacoel dan senggolan becak serta warung padang adalah topik utama.

Karena ada urusan lain dan memang niat awal hanya untuk mengantar keberangkatan rombongan, menjelang pagi jumlah kami yang berada di rumah mas Ary berkurang separo. Yah, Noviar, Uchi, Lian, Berry dan mas Herman musti meninggalkan Subaya untuk kembali ke Denpasar. Aku yakin, mereka meninggalkan tempat ini dengan berat hati.

Tinggallah kemudian kami yang tersisa satu persatu memejamkan mata, istirahat untuk hari esok dan tinggal Aku dengan Nonok menuntaskan malam bersama beberapa sloki arak yang tersisa. Cerita tentang beberapa kawan cewek dan lagu Donna-donna menjadi menu akhir yang menggiringi maboknya kami dan mengantar menuju rasa ngantuk. Dan kantuk itu pun tiba ketika subuh menjelang. Usai sholat subuh, barulah mata ini bisa terpejam, lelap meninggalkan amarah yang berkecamuk sehari sebelumnya.

Baru kusadari dibagian akhir mabokku, aku teringat pada emosi sehari sebelumnya tentang seseorang telah melemparku kedalam lembah emosi dan amarah. Semua menjadi sangat jernih terlihat, bagaimana situasi dia, bagaimana dia harus mengambil keputusan dan keputusan apa yang dia ambil. Ah, ini bagian diluar konteks tulisan ini.

Perjalanan
Pagi, usai semua rutinitas pagi seperti sarapan, sikat gigi dan ngopi, dimulailah perjalanan ini. Kurang lebih jam 9.30 wita, setelah diawali dengan doa bersama agar perjalanan ini membawa barokah, selamat sampai tujuan dan lain sebagainya, maka berangkatlah kami.


Tahap awal adalah perjalanan dari titik awal rumah mas Ary menuju puncak Penulisan, Kintamani. Pada tahap ini kami dihadapkan pada medan yang mendaki dengan sudut pendakian rata-rata menurut perkiraanku 60-70 derajat. Kondisi fisik dari kami masih sangat segar, perjalanan itu diwarnai dengan tawa dan canda.

Beberapa kali perjalanan kami terhenti untuk sekadar bertegur sapa dengan penduduk setempat yang mengenal Mas Ary dan kebanyakan dari mereka geleng-geleng kepala begitu memahami tujuan kami.

“Ke Badung? Jalan Kaki?”, begitulah kurang lebihnya. Penuh keheranan dan takjub.

Pada tahap awal perjalanan ini, mata kami dimanjakan dengan indahnya pemandangan alam disekitar kami. Alam yang berkabut, lembah lembah yang hijau dan hutan cemara yang rindang. Di beberapa titik kami berhenti untuk menikmati keindahan karunia Illahi ini. Beberapa photo pun, kami ambil di sudut-sudut yang eksotik itu.

Sebuah perilaku unik dalam menikmati perjalanan ini ditunjukkan si Pacoel. Apa itu? Ia memanfaatkan waktu dan suasana teduh dengan membaca. Sambil jalan, sambil membaca kenapa tidak. Dua judul buku yang dia bawa menggelitik rasa ingin tahuku walau salah satunya telah tuntas kubaca beberapa tahun lalu. Dua judul buku itu adalah Rahasia (The Secret) dan Risalah Hati. Judul yang terakhirlah yang menggodaku untuk meminjamnya. Yang pertama? Ia versi terjemahan. Aku ga suka karena kutahu banyak yang hilang dalam proses translasi.

Bukunya si Pacoel, yang Risalah Hati, ikut mewarnai perjalanan kami. Sempat, satu persatu Aku, Pacoel dan Shiro bergantian membaca sebagaian isi buku itu secara bergantian dengan suara keras. Maka jadilah seperti Kotbah berjalan yang dikerjakan secara keroyokan.

Sebagian kecil yang kuingat, adalah sebuah paragraf yang mengatakan bahwa ada segumpal daging dalam tubuh manusia yang menentukan baik buruknya manusia itu. Segumpal daging itu bernama hati.

Okay, Cerita tentang perjalanan ini dilanjut.

Setelah lebih kurang dua jam perjalanan yang mendaki, tibalah kami di Pura Puncak Penulisan. Disini kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah, dan juga berpose untuk photo-photo tentunya. Disini juga dari yang awalnya 6 orang yang berangkat, ketambahan 2 anggota lagi ketika Ivan dan Nonok memutuskan bergabung. Sebelumnya, mereka berniat mengawal saja. Satu member lagi adalah Riko. Tapi ia tidak lama, hanya beberapa kilo saja ikut menemani. Ia ada urusan lain yang membuatnya meninggalkan rombongan lebih awal. Jadi, total keseluruhan kemudian kami berdelapan yang menempuh perjalanan ini.

Meninggalkan Pura Puncak Penulisan, perjalanan kami lanjut menyusuri jalan raya Penulisan. Jalan ini, menuju kearah Puncak Kintamani dan juga Bangli. Nantinya disana kami akan berbelok menuju Payangan dan selanjutnya ke Denpasar.

Pemandangan yang indah, juga hawa yang teduh mengiringi langkah-demi langkah kami. Jika sebelumnya perjalanan diwarnai medan yang mendaki, kini jalan agak datar dan cenderung menurun. Langkah terasa nyaman walau energy mulai terasa berkurang. Di setiap sudut yang indah atau tempat-tempat yang menunjukkan puncak puncak kecil perjalanan, kami berhenti sejenak. Untuk apa? Ya apa lagi kalo ga berfoto-foto ria hehe…

Begitulah kami menikmati perjalanan. Aku sendiri, sesekali berhenti untuk mencoba Canon 450D yang baru kupegang. Beberapa obyek photo dengan berbagai ragam settingan kucoba untuk nge-shoot, yah..ini adalah latian memotret dengan berjuta obyek.

Exhausted
Langkah-langkah selanjutnya, kemudian kami menghadapi medan jalan yang mulai menurun menuju arah Payangan. Hutan pinus dengan jalan yang berkelak kelok dan hamparan hijau di kejauhan. Lalu kebun jeruk dikiri kanan jalan. Semua menyegarkan. Dari satu titik tertentu, mata kami bahkan bisa melihat laut Bali diselatan sana yang tampak indah jauh dibalik horizon. Pulau Nusa Penida pun terlihat dikejauhan sana.

Sampai kemudian, kami mendekati Payangan. Matahari telah bercondong kearah barat dan selanjutnya hari berganti. Gelap datang dan malam sudah menyambut. Saat itu perjalanan telah mencapai sekitar 60 kilometer, berdasarkan patok Bina Marga.

Pada titik ini, telah mulai kami rasa kelelahan datang perlahan lahan. Langkah kaki kami, tidak lagi gesit seperti tadi. Perlahan semua melambat. Dimulai dari betis yang mulai pegal, telapak kaki yang lelah karena ditumpu sol sepatu yang tidak tepat medan, kelelahan mulai menyergap. Aku mulai merasakan ini.

Dari telapak kaki, lalu betis, kemudian naik menuju menuju ke hamstring dan pada akhirnya semua bagian kaki terasa enggan lagi diperintah untuk berjalan. Jika kami beristirahat agak lama, makin terasa pula kelelahan itu.

Puncaknya, kemudian di satu sudut Payangan, kakiku sudah benar-benar tak mau lagi diperintah. Wel, ini panggilan untuk melihat situasi secara realistis. Aku ga mungkin lanjut. Lewat Shiro, kemudian dipanggilah tim evakuasi, si Didik Purwadi untuk menjemputku. Dengan berat hati aku pamit dulu ke Hendra untukdua alasan, ganti sepatu dengan sandal dan mencuri waktu untuk istirahat lebih lama di sebuah titik penantian beberapa ratus meter didepan.

Pada saat itu, pikiranku sudah dihinggapi kesadaran bahwa menujur Denpasar dengan jarak tempuh kurang lebih 40 kilometer kedepan, sepertinya menjadi sesuatu yang sulit dituntaskan sehari ini. Ini setelah kusadari kondisiku sendiri, juga melihat kawan lain macam Hendra dan Pacul. Hanya saja, mungkin beban moralku tak seberat disandang Hendra yang membuat nazar, aku lebih relax untuk membuat keputusan bahwa otot-otot kakiku sudah exhausted dan tak bisa dipaksakan lagi.

Setelah tiba dititik penantian dimana beberapa kawan lain juga sudah tiba disana, jalan kaki tentunya, kami duduk beristirahat. Dalam salah satu obrolan, kusampaikan ke Ivan bahwa keadaan sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi. Banyak diantara kami, walau ga pada bilang, kutahu sudah kepayahan. Jika dipaksakan, bisa bisa bukan ke Narakusama kami akan tiba, melainkan ke Sanglah!

Lalu, setelah menunggu dan beristirahat beberapa lama, sampai juga di titik penantian itu, sebuah warung yang kami pinjam terasnya untuk menanti, Hendra, Shiro dan Pacoel. Begitu tiba, Hendra langsung membaringkan diri. Yah, gurat kelelahan tampak jelas dimatanya. Seperti juga mata dan wajah kawan lain.

Aku yakin, disaat itu ia mulai berfikir realistis akan kondisinya sendiri dan juga kawan lain.

Dan, setelah mempertimbangkan banyak kemungkinan, bahwa kelelahan dan cuaca juga tidak terlalu mendukung…Hendra memutuskan perjalanan itu pun dihentikan di Desa Kertha, Payangan. Ketika Hendra memutuskan stop, lalu dilanjutkan lain waktu, semua menyambut dengan senyum. Yah, realistis saja, otot-otot kaki sudah enggan diperintah, dan 40 kilo jarak didepan bukanlah jarak yang pendek. Maka, disepakati kemudian bahwa ini adalah perjalanan Subaya-Denpasar, session I. Kelak akan dilanjut session II. Tidak akan lama lagi kok….

Sampai ketemu di Session II kawan…..I’ll never miss it!!

  • Share/Bookmark

Artikel Yang Mungkin Terkait

  1. Riuh Papan Reklame di Jalan Teuku Umar Jalan Teuku Umar yang membujur dari arah timur di jalan Diponegoro menuju arah barat jalan...
Artikel ini ditandai dengan tag Kintamani, Seputar Bali, Subaya

7 Komentar

congratsssssssssss……
top buat kalian semua.
maap nggak bisa ikutan mendampingi. semoga di session II diriku bisa ikutan joint.
sip..sip..sip….

Gila… SALUTE….!!!

Pertama aku denger rencana kalian aku pikir cuma bermalam saja, setelah kalian berangkat aku baru tahu kalo kalian itu jalan kaki SUBAYA-DENPASAR.

Wah…ga tahu deh harus komen apa yang jelas aku acungkan 2 jempol untuk kalian semua.

SEMANGAT…!!!

@Yanuar & Chris,

jangan lewatkan Session II, mungkin akan sedikit lebih “liar”, ntar aku bilang ke Hendro biar nyari jalur yang lebih melintas alam…

biar seru!!

session II kalok lintas alam aku ikut!

Ayooo … cari yg lintas alam. Artinya nggak ikutin jalan raya. Cuma, perlu cari tahu rute nya. Ada yg tahu ? Biasanya komandan sidhar tahu. Ntar komunikasi lebih intensip deh. Basically, aku setuju lintas alam.

Hehehe sory baru baca (telad banget!, maklum jarang2 online2an)
Hebatt nie semangat Mas Henz dkk…salut berat! (hormat menghamba!)

Trackbacks & Pingbacks

Kaos Baru Indosmarin.com | Corat Coret

[...] dari Jalan Sehat Subaya-Denpasar Sabtu (23/01) lalu, aku memperoleh sebuah kejutan yang menarik. Gentry memberi sebuah kaos baru [...]

Tinggalkan Komentar Balasan

icon_wink.gif icon_neutral.gif icon_mad.gif icon_twisted.gif icon_smile.gif icon_eek.gif icon_sad.gif icon_rolleyes.gif icon_razz.gif icon_redface.gif icon_surprised.gif icon_mrgreen.gif icon_lol.gif icon_idea.gif icon_biggrin.gif icon_evil.gif icon_cry.gif icon_cool.gif icon_arrow.gif icon_confused.gif icon_question.gif icon_exclaim.gif