I Gusti Agung Putri Astrid Kartika

Salah satu kategori yang dipersiapkan dalam blog ini adalah “Manusia”. Niatnya, menulis tentang karakter-karakter luar biasa yang aku termui dalam kehidupan sehari-hari. Karakter yang luar biasa itu bukan hanya karakter populer melainkan lebih pada sosok-sosok yang inspiratif. Inspiratif buat aku, inspiratif buat masyarakat lain secara luas.


ap-wisuda-issSebelumnya, yang sudah aku masukkan dalam kategori ini adalah Pramoedya Ananta Toer. Kali ini? Tak bukan adalah salah satu Caleg perempuan dari PDIP di Bali, yakni I Gusti Agung Putri Astrid Kartika.

I Gusti agung Putri Astrid Kartika, atau yang lebih akrab dipanggil dengan panggilan Gung Ti, aku kenal kali pertama di kediamannya sendiri dalam sebuah acara diskusi yang santai dan menyenangkan tentang UU ITE dan Pelaksanaan Ham di Indonesia. Pada saat itu mulai muncul rasa salut aku pada Gung Ti, padahal sebelumnya ketika membaca undangan diskusi itu melalui sebuah milis dan mengetahui bahwa yang bicara adalah seorang Caleg, ada rasa sinis. Ah, paling cuma kampanye. Yah, pandanganku tentang sosok Caleg memang minor karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya Caleg itu hanya bisa ngomong sesuatu yang mengawang-awang dan punya kebiasaan buruk ogah mendengar pendapat orang.

Dalam diskusi itu, mulai terlihat bahwa pendapat dan imajinasiku tentang seorang Caleg tidak sepenuhnya benar. Setidaknya dalam sosok Gung Ti yang bisa dengan lugas bicara persoalan HAM, politik dan persoalan-persoalan lain dengan rileks dan mendalam. Dari caranya bertutur menunjukkan apa yang Ia sampaikan tidaklah dangkal. Hanya orang-orang yang telah banyak makan asam garam lah yang bisa bertutur dan berpendapat dengan lugas dan dengan metode pemikiran yang bisa mudah dipahami.

Kesan yang mendalam itu, bertambah setelah terjadi pertemuan selanjutnya dalam Diskusi Memperingati 1000 Hari Meninggalnya Pramoedya Ananta Toer. Dalam kesempatan itu, Gung Ti bertindak sebagai pembicara yang memaparkan pengetahuan dan perkenalannya yang mendalam dengan Sang Maestro. Tak hanya tentang perkenalan dengan Pram, lebih dari itu adalah pembacaan terhadap pikiran-pikiran Pram tentang peradaban dan kontekstualisasinya dengan perkembangan kebudayaan Indonesia, termasuk konteks kekiniannya.

Selain dari ranah diskusi, perkenal tentang Gung Ti juga aku peroleh dari obrolan dengan kawan lain. Gentry Amalo, yang terlebih dulu mengenalnya, memaparkan bahwa sosok Gung Ti ini bukanlah sosok yang “Baru Muncul” alias karbitan. Aktifitas sosial kemanusiaan Gung Ti, Kata Gentry, telah dimulai sejak lama lebih dari 13 tahun yang lalu. Sementara perlu dipahami bahwa aktifitas kemanusiaan pada masa itu (90an) boleh dibilang sangat beresiko mengingat bagaimana sikap rezim yang berkuasa ketika itu. Gung Ti aktif diberbagai organisasi dan lembaga kemanusiaan antara lain ELSAM dan KKR. “Gung Ti ini, kalo boleh dibilang adalah salah satu penggagas KKR, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebuah komisi yang bertujuan untuk mencari kebenaran atas berbagai persoalan HAM di Indonesia” kata Gentry.

Tak hanya dalam wilayah pemikiran dan aktifitas kemanusiaannya, langkah Gung Ti dalam proses pen-caleg-annya pun patut diacungi jembol. Pendekatan dan kampanyenya penuh aroma kerakyatan, intelek dan kekinian. Maksudnya? Selain aktif diskusi dengan berbagai kalangan juga aktif memanfaatkan media online sebagai media kampanye. Ia tidak melulu mengandalkan “pasang tampang” dipinggir jalan sebagaimana ditempuh Caleg lainnya. Justru sebaliknya aku belum pernah melihat baliho yang memajang potretnya.

Dengan tampilnya Gung Ti sebagai seorang calon legislatif dengan latar belakang yang mumpuni seperti diatas, ada harapan Pemilu yang akan datang menjadi lebih berwarna dan tak melulu hanya berisi janji-janji manis melainkan lebih dari itu. Janji dan kenyataan nyambung adalah impian indah tentang wakil rakyat. Jika terpilih kelak, aku berharap Gung Ti benar-benar menunjukkan bahwa Perempuan Indonesia itu mampu dan tak boleh diabaikan dalam kancah politik Indonesia.

Berikut ini adalah kutipan profil Gung Ti yang disalin dari weblognya.

Agung Putri lahir di Malang, 15 Oktober 1967. Sejak masih menjadi mahasiswa jurusan Sosiologi di Universitas Airlangga ia sudah aktif dalam gerakan mahasiswa yang memperjuangkan hak-hak rakyat. Setelah lulus ia bergabung dengan ELSAM, lembaga hak asasi manusia terkemuka di Jakarta, dan menjadi direktur lembaga itu pada 2006.

Kegiatannya di ELSAM membawanya berkeliling Indonesia, dan bersama masyarakat adat, korban penggusuran, kaum buruh, petani dan miskin kota, berjuang menegakkan hak-hak rakyat. Pendidikan pascasarjana ditempuhnya di Negeri Belanda, yang memberinya bekal pengetahuan untuk berjuang secara ilmiah, sistematis dan obyektif. Sebagai tokoh gerakan sosial ia bisa berdebat dengan para pejabat birokrasi, militer maupun sipil, sama lancarnya dengan menjelaskan hak-hak dasar kepada seorang petani.

Walau baru sekarang menjadi calon legislatif dari PDI-P, Agung Putri sudah lama terlibat dalam dunia politik. Di masa-masa sulit semasa Orde Baru ia sudah menjadi bagian dari gerakan yang memperjuangkan reformasi. Sebagai pimpinan ELSAM ia aktif terlibat dalam perumusan undang-undang dan peraturan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Langkah ke Senayan sebagai calon legislatif bersama PDI-P adalah kelanjutan dari perjuangan yang sudah dilakukannya selama 20 tahun terakhir.

Di tengah ancaman neoliberalisme yang mencengkeram kehidupan rakyat, ancaman fundamentalisme agama dan pasar, PDI-P adalah partai yang tegas mempertahankan
prinsip kedaulatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kader PDI-P telah melalui ujian sejarah selama masa Orde Baru dan berulangkali menunjukkan sikapnya memperjuangkan mereka yang menjadi korban kekerasan dan penindasan. Hal inilah yang menarik Agung Putri untuk bergabung dan menjadi calon legislatif dari PDI-P.

Indonesia sekarang dilanda bermacam masalah dan sudah saatnya bangsa ini bangkit untuk kedua kalinya. Jika dulu bangsa Indonesia bangkit membebaskan diri dari belenggu penjajahan, maka kini saatnya kita bangkit untuk menjaga agar kebebasan itu tidak dirampas. PDI-P sudah bangkit mengambil langkah. Agung Putri, sebagai calon legislatif dari daerah pemilihan Bali, akan mencurahkan tenaga, hati dan pikirannya, bersama PDI-P dan bersama rakyat, memperjuangkan tujuan ini.

Untuk menyimak dan mengenal lebih jauh tentang sosok Gung Ti, silakan mengunjungi halaman Blog Online nya, di alamat http://agungputriastridkartika.blogspot.com/ atau melalui profile jejaring sosial facebook.

One thought on “I Gusti Agung Putri Astrid Kartika

  1. Pingback: Penterjemah Bahasa Indoensia-Bahasa Sunda | Corat Coret

Comments are closed.