Corat Coret

Menulis dan Berkomentar Tentang Apa Saja

Jun

11

Dongeng Kampungan: Jupri, Bukan Jepri

Orang kampung, memang kampungan. Dari dulu memang begitu. Terutama jika orang kota yang mengatakannya, bisa dibilang 100% sah. Tentu saja sah, karena setiap orang punya hak menilai orang lain.

Cap kampungan, bisa datang dari banyak sisi. Yang sering terdengar, pertama kali mungkin dari nama, lalu gaya dia bicara, kemudian pembawaan, kemampuan berkomunikasi dan bersambung kemana-mana. Pokoknya banyak.

Buat orang kampung, apalagi di kampungku, nama bagi seseorang tak berarti banyak, kecuali sebagai tetenger (pertanda). Dari namanya dan kemudian panggilan terhadapnya, orang biasanya tau banyak hal. Mulai dari urutan kelahiran, postur tubuh, dan jumlah nama serupa di kampung.

Misalnya, Jum Cilik. Itu artinya ia namanya Jum, yang bisa jadi Jumiati atau Jumirah yang punya ukuran body cilik (kecil) atau berusia lebih kecil dibanding jum yang lain yang lebih tua. Kalo ada yang cilik, tentu ada yang gede, maka karena kebetulan namanya sama-sama jum, dipanggillah ia Jum Gede.

Lalu panggilan berasal dari urutan kelahiran, misalnya anak paling kecil akan umum dipanggil si ragil atau anak pertama si mbarep. Untuk ini, urutan nama, di kampung kami tidak ada aturan atau urutan tertentu seperti di bali, yang mempunyai urutan secara khusus dalam memberi nama.

Di Bali, anak pertama adalah Wayan atau Putu, anak kedua made atau Kadek, anak ketiga Nyoman atau Komang, dan ke empat Ketut. Untuk yang terakhir, jangan tambahkan alfabet “N” ya ditengahnya. Bisa berabe.

Kalo saja sebuah keluarga anaknya banyak, melebihi jumlah itu, dengan sendirinya akan diputar kembali keatas. Begitu terus. Sedang di kampungku, bisanya namanya berakhiran O atau ber prase depan su. Misalnya sularto, suharno, sugito, suhardi, hartono, parto, dan perempuannya berakhiran ti atau mi. Parmi, jumiyati, kusrini, parti, sulatri, dan seterusnya.

Cerita dilanjutkan, selanjutnya begini.
Di kampungku, ada salah seorang warganya yang bernama Jupri. Aku memanggilnya de’ Jupri. De’ disini merupakan kependekan dari pakde, yang artinya dianggap lebih tua dari orang tuaku. Jikalau ia dianggap lebih muda, maka dipanggillah ia paklik, tau lik’ saja.

Perlu dicatat, tua atau muda bukan melulu berasal dari umur, melainkan juga dari silsilah kekeluargaan. Bapaknya De Jupri ini, lebih tua dari bapaknya siMbah, walau usia ibu lebih tua dari pakde jupri ini.

Pakde jupri ini, bagiku menarik untuk di lihat lebih jauh. Jika saja ia lahir dikota, seperti yang kutulis diawal tadi, bisa jadi namanya bukan jupri, tapi Jefry atau Goefrey jika di negeri barat sana.

De jupri, orangnya sederhana. Sangat sederhana, untuk tidak mengatakannya miskin. Ia tak sampai menamatkan sekolah dasarnya,
dan sedari kecil terbiasa mengusahakan kebutuhan hidupnya sendiri. Tak terlalu lincah atau gesit dalam pembawaannya, malah bisa dibilang, ia cenderung lelet. Dalam mengerjakan banyak hal, ia lakukan dengan pelan-pelan, dengan kelembutan. Saking lembutnya, seringkali dirasa, pekerjaannya terlalu lambat dan jauh dari produktif.

Orang-orang dikampung kami telah memakluminya, dan mengerti. Pada akhirnya, pekerjaan-pekerjaan jantan,
tak lagi diberikan padanya. Katakanlah jika ada pekerjaan menggali sumur atau dalam membangun sebuah rumah memerlukan tenaga tukang yang dituntut mengerjakan pekerjaan yang agak sulit, maka de Jupri ini adalah pilihan kesekian diantara pilihan lain.

Kurasa, ia pun mengerti betul kemampuan dirinya, hingga tak ambil peduli terhadap masalah-masalah seperti itu. Ia pun, mempunyai pilihan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdagang, itu pilihannya. Ups, nanti dulu. Jangan bayangkan ia seorang pedagang yang membangun hidupnya dengan perniagaan yang hebat, memiliki kios atau los di pasar. Tidak. Ia tidak sampai berfikir kesana.

Baginya, lebih mudah menjual es dan mainan, juga jajan-jajan ringan untuk murid-murid SD disebuah sekolah yang ada
di daerah, sedikit diluar desa kami. Darimana ia jualan? Apakah ia memiliki freezer sendiri untuk membuat es? Tidak, ia tidak punya.

Ia menjual es yang dia ambil dari seseorang lain, yang ia jadikan langganan, lalu ia seusai ia kerja, ia setor berapa yang terjual, dan ia mendapat untung dari selisih modal yang ia setor dan yang ia jual. Ia menjalankan usahanya itu dengan satu modal, yang percaya atau tidak, sepeda onthel yang sampai hari ini masih digunakannya!

Tak melulu mengandalkan jualan di sekolah dasar, tak jarang ia bekerja diluar kebiasaannya itu. Jikalau disebuah desa ada tanggapan (acara yang diadakan oleh seseorang yang punya hajat), atau ada keramaian tertentu, ia pun memanfaatkan momen itu untuk jualan. Katakanlah, didesa seberang ada tanggapan wayang kulit, atau ada turnamen sepakbola antar RT, maka ia pun membacanya sebagai sebuah peluang untuk dagang.

Tak peduli cuaca panas atau teduh seusai hujan, ia tetap jualan. Ramai atau sepi, baginya tak masalah, karena baginya adalah berusaha. Ya, ini kata kuncinya: berusaha. Berusaha menjawab kebutuhan hidupnya dengan apa yang ia mampu usahakan.

Tak memaksakan diri menjadi orang lain atau ikut pada orang lain. Ia memiliki dunia sendiri dalam hal ini, dan aku ingat satu kali, ketika sawalan datang, Sawalan adalah perayaan 10 hari setelah hari raya idul fitry, yang biasanya diramaikan dengan berbagai acara di daerah-daerah tertentu, kami mremo (jualan karena adanya satu event disuatu tempat) di muara demak,
yang cukup ramai. Mengasyikkan, membantunya jualan es, dan masih juga diajak pesiar naik perahu seputar muara itu. Sungguh membahagiakan bagi kami.

Kejeliannya berusaha, pun banyak dipuji orang. Beberapa kali, ia menjual barang lain selain es dan jajan. Apa? pasir! pasir? darimana ia peroleh modal? jangan kaget. Ia tak memperolehnya dari mana-mana. Ia tak mengambil dari siapa-siapa. lalu? Ia melihat banyak pasir yang tersisa dari sebuah proyek, yang ternyata tak lagi dibutuhkan si empunya, atau hanya terhampar sia-sia di tepi jalan. Ia pungut itu satu satu, lalu dibawa pulang dan dikumpulkan dirumah.

Sehari dua hari ia kumpulkan sedikit demi sedikit, lalu begitu jumlahnya cukup untuk dijual, dijuallah pasir itu dengan keuntungan yang tentu saja lebih besar dibanding jika ia hanya menjual es. Telaten, sangat telaten. Begitu, orang dikampung kami sering memujinya.

Ketelatenan dalam mengumpulkan rejeki, sebegitu pula ketelatenannya dalam mengeluarkan uang untuk keperluannya. Ia tau, rumahnya yang ia tinggali bersama ibunya, kondisinya telah jauh dari memadai. Beberapa bagian rumah itu reot. Sana sini bocor, beberapa bagian dindingnya miring. Maklumlah, rumah yang berdinding gedek dan berlantai tanah itu umurnya sama dengan umur kehidupannya atau bahkan lebih tua? entahlah.

Karena itu, ia berniat memperbaiki, agar lebih baik dan pantas untuk ditinggali. Maka, sesuai kemampuannya, ia mulai sedikit demi sedikit. Satu hari ia pulang membawa kaso (Balok kayu) dan reng. Kali lain, ia membawa papan selembar atau dua.
Kesemuanya, ia kumpulkan dengan telaten. Maka, ketika semua yang ia kumpulkan dirasa cukup, ia memanggil tukang untuk mengerjakan beberapa bagian yang tak bisa dikerjakannya, seperti membuat kuda-kuda atap atau membuat jendela dan kusennya.

Ketika semuanya siap, ia undang saudara-saudaranya dan warga kampung untuk gotong royong membangun rumahnya. Oya, de Jupri ini mempunyai tiga saudara, dua kakak dan satu adikknya. Satu yang paling tua, tinggal jauh dari kampung kami bersama keluarganya, yang kedua masih dikampung kami begitu juga dengan adikknya yang kesemuanya sudah berkeluarga. Hanya ia yang belum. Tapi tak lama dari paragraf ini, akan sampai ke bagian itu kok.

Lalu, mulai lah tradisi kuno di kampung kami itu di rumahnya. Dimulai dengan sarapan pagi bersama, yang juga tentunya dipanjatkan doa, maka dimulailah pekerjaan itu. Masing masing warga kampung mengerti yang ia kerjakan, para ibu walau tak semua, turut membantu di dapur dan lelakinya mengerjakan pekerjaan lain seperti membongkar gedek, menaikkan genteng dan lainnya.
Sampai hari menjelang senja, pekerjaan itu selesai. Lebih bagus kini rumah itu terlihat, hanya dinding depannya belum dipasang kaca. Masih papan yang tidak berjendela. Lain waktu mungkin akan menyusul, dan waktu yang kemudian menjawab, bahwa memang begitulah adanya.

Rupanya, tak jauh beda dengan kebanyakan orang lain di kampung kami itu, yakni setelah dirasa smua siap, maka bersiaplah ia memasuki tahap lain hidupnya: Menikah.

Ya, rupanya perbaikan rumah keluarganya itu, telah dipikirkan jauh hari untuk mempersiapkan bakal pernikahannya, yang ternyata pula ia telah memiliki seorang pilihan perawan desa, dari desa lain, kecamatan lain. Tentu saja, lebih ndeso. Dan sampailah hari bahagia itu, dengan ngetutke penganten ke rumah sang mempelai putri.

Kami sekampung, tua muda, laki perempuan turut bergembira, dan tak menduga bahwa lelaki yang selama ini terlihat klemar-klemer (lelet), mampu memikirkan masa depannya sejauh itu. Dan jadilah ia seorang suami, dari seorang istri, yang walaupun juga kampungan, adalah istrinya yang ia nikahi dengan sah. Dalam beberapa hari setelah itu, kampung kami ketambahan satu warga, istrinya de Jupri ini. Tapi tolong jangan tanya siapa namanya, aku sudah lupa. Tapi untuk mudahnya, sebut saja ia bernama Mar.
Nama yang simple dan umum dikampung kami, yang memang kampungan.

Hari pertama kedatangan dan tinggalnya ia dikampung kami, cukup mengundang perhatian. Banyak anak anak kecil seusia kami, yang datang tuk sekedar menonton dan melihat warga baru itu. Ramah, teramat ramah. Dan keuntungannya bagi kami yang main kesana itu, karena masih baru, tentu saja stok jajannya masih banyak, maka kami satu-satu dibagi jajan itu. Bergembiralah kami, baru kemudian meninggalkannya. Nakal? ngga juga. Kami memang kampungan suka banget sama yang kliatan baru.

Namun tak lama, beredar kabar bahwa mereka tidak serasi, tidak cocok satu sama lain. Entah dimana letak ketidak serasian atau kecocokannya, bagiku itu diluar jangkauanku ketika itu. Yang kutahu, mereka ujung-ujungnya pisah, Cerai. Hanya saja, sebelumnya memang tersiar kabar burung bahwa de Jupri tak mampu melaksanakan kewajibannya sebagai lelaki,
yang ternyata tak membahagiakan istrinya itu. Benar demikian? Entahlah.

Walau menghadapi masalah yang terhitung pelik itu, De Jupri masih terlihat biasa-biasa saja, tak terlalu banyak ambil peduli. Baginya, hidup ini sudah ada yang ngatur. Ia tinggal menjalani saja. Apakah akan langgeng atau tidak, sudah ada yang ngatur. Pemikiran macam ini pula, yang berada dalam benak banyak warga kampung dan desa seperti desa kami. Walau beberapa bagian telah melek pendidikan, banyak bagian lain yang merem dan tertidur dalam buaian takdirnya. Ngawulo ing gusti Nerimo ing pandhum, mengabdi pada yang maha kuasa, menerima apa takdirnya.

Selang beberapa tahun, aku tak mengikuti perkembangan yang ada di kampung, karena memang tak lagi tinggal disana. Jauh, teramat jauh dari kampoung itu, yang ternyata melahirkan bentuk gw yang kayak gini -sexy dan sangar- hehe. Hanya beberapa kabar, yang dapat didengar, disimak, itu pun dari saudara yang kebetulan berkunjung, atau telpon dari desa yang mengabarkan perihal kejadian-kejadian yang menyangkut keluarga dan beberapa hal yang berkaitan.

Selama beberapa tahun itu, banyak kejadian yang menimpa kampung kami. Beberapa warga yang sudah uzur, meninggal dunia, beberapa anak muda sudah menikah, beberapa balita sudah semakin besar. Ketika aku kembali kesana beberapa tahun kemudian, perubahan itu tampak nyata. dan de Jupri, juga berubah! sudah beristri lagi, yang kali ini terlihat bahagia betul dengan apa yang ia terima dan jalani. Ketika itu anaknya baru satu, lalu setahun kemudian bertambah lagi satu, dan dua tahun kemudian total jenderal anaknya ada empat. Luar biasa produktifnya, saingan dengan tetangga lainnya yang telah mengkoleksi 9 anak hingga kini dan paling besar kelas 2 SMP!

Bayangkan saja yang perbandingan umur nya, jika katakanlah anak kelas 2 smp kemungkinan berumur 14 tahun, dan ia memiliki 8 adik, maka kemungkinan setiap 1,75 tahun ibunya mengandung. Hebat bener makhluk yang namanya perempuan ini. Lain kali akan kutulis tentang ini.

De jupri, masih seperti dulu, dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Jualan es, jajan dan mainan anak kecil. Begitu tabah ia dengan semua itu, yang nyatanya mampu memberi makan keluarganya. Kini, rasanya kebahagiannya bertambah, ketika si istri ternyata begitu pengertian dan mengerti kemampuannya, dan setia dengan itu smua.

Bahkan ia membantu perekonomian keluarnya dengan jualan nasi bungkus, dan mulai menggoreng sendiri jajan yang dijual suaminya.
Tentu saja, tuntutan kebutuhannya tak semakin ringan, karena anak-anaknya pun, perlahan smakin tumbuh besar, dan kebutuhan lainnya datang menyusul. sekolah, jajan, mainan. Sambung menyambung, dan itu harus dipenuhi oleh mereka, yang telah lama di tinggal oleh Mbah lastimah yang meninggal ketika banjir besar datang di kampung kami, beberapa tahun sebelum kepulangannku.

Dan cerita ini berakhir dengan satu kalimat: kampungan itu menarik. Kampung, selalu menemukan jalannya sendiri ditengah deru jaman yang penuh debu.
————–
Catatan: ditulis beberapa tahun lalu, dan pernah di publish di http://ircsmg.blogspot.com juga jika tidak salah inget di forum.kafegaul.com

  • Share/Bookmark
Artikel ini ditandai dengan tag Kampungan, Manusia, Ndeso

3 Komentar

Keren…. TOP tulisannya mas, keep writing yg kyk begini ya terlihat natural :)

Thanks Allea,
tapi ngomong-ngomong itu uRl kamu yang bener apa? di follow ga teregister..

pas iseng2 searching ama keyword ‘jupri’ nama gw sendiri . e..e ketemu halaman ini.
Wah bagus ni cerita bisa dibikin novel dan film.

Tinggalkan Komentar Balasan

icon_wink.gif icon_neutral.gif icon_mad.gif icon_twisted.gif icon_smile.gif icon_eek.gif icon_sad.gif icon_rolleyes.gif icon_razz.gif icon_redface.gif icon_surprised.gif icon_mrgreen.gif icon_lol.gif icon_idea.gif icon_biggrin.gif icon_evil.gif icon_cry.gif icon_cool.gif icon_arrow.gif icon_confused.gif icon_question.gif icon_exclaim.gif