Denpasar, 13 Mei 2002, Usai Nyepi.
Ale. Begitu singkatnya namaku. Secara berseloroh, kawan-kawanku sering mempelesetkannya sebagai Anak Leak. Aku adalah Anak Lelaki. Tentu saja aku lelaki. Diselangkanganku terdapat sepotong tongkat mini yang ujungnya tumpul berlubang.
Sebentuk tongkat yang unik, karena ia bisa mengeras, membesar dan kemudian kembali mengendur. Tergantung situasi yang ada. Yang rada mengherankan, tongkat mini ini selalu mengeras tiap pagi juga diwaktu waktu lain ketika ada sesuatu yang indah melintas didepan mata.
Dengan sebatang tongkat mini ini, kelak seorang lelaki kan terbukti apakah ia lelaki sejati atau bukan. Apa hubungannya? begini. Banyak adagium tentang kesejatian lelaki. Misalnya bahwa lelaki sejati adalah mereka yang pernah menaklukkan berbagai puncak gunung, mereka yang merokok merk tertentu, mereka yang banyak gonta-ganti cewe.
Tapi bagiku, bukan itu. Yang menjadi penentu kesejatian seorang lelaki adalah bisa tidaknya ia membuat hamil perempuan. Bukankan ujung-ujungnya disana? Dan tentu saja, berkat kerjasama yang erat antara si tongkat mini yang sering nakal dan lawannya yang merekah itu.
Ale, anak Lelaki yang kini berada dalam tahap awal kedewasaan. Belum sepenuhnya dewasa, karena aku merasa bahwa untuk bisa dikatakan dewasa, selain tidak lagi berperilaku kekanak-kanakan, seseorang musti hidup dengan sebuah kemandirian dan kematangan mental untuk menghadapi perubahan hidup. Aku merasa belum berada pada level itu. Beberapa perubahan dan tantangan hidup terkadang kuhadapi dengan tangan terkepal namun tak jarang juga aku hindari dan melarikan diri darinya.
Semua tergantung situasi dan kalkulasi. Bukankah tiap permasalahan bisa diperhitungkan? O`..lebih tepat ditimbang-timbang. Timbangan baik-buruk, untung-rugi, dan kemampuan diri. Kalau memang sebuah masalah bagiku bisa dihadapi dengan kemampuanku sendiri dan perhitungan lain tanpa emosional, tentu akan kuhadapi. Sebaliknya, jika semuanya tidak memadai kurasa lebih baik menghindarinya. Jeleknya tak jarang pula, yang kulakukan bukan keduanya tapi satu yang terakhir. Melarikan diri.
Ini sebenarnya pilihan kecut namun acapkali ini juga adalah pilihan terbaik. Apakah ini berarti sebuah karakter yang tidak punya konsistensi? Kurasa tidak juga. Menghadapi persoalan tanpa persiapan hasilnya adalah sebuah kebodohan. Menghindari masalah bukan berarti tak berani menghadapinya, namun dibutuhkan persiapan untuk menghadapinya. Tentunya diwaktu yang lain. Yang paling unik terkadang adalah kondisi yang memaksa dan tak terduga. Mau tak mau harus dihadapi, karena untuk dihindari apalagi ditinggalkan pertaruhannya cukup besar. Harga diri misalnya. Yah. Pada akhirnya, kembali pada sosok yang menghadapi persoalan tersebut. Bagaimana sikap, kesiapan dan pengalamannya. Masing masing orang, punya pembenaran dan pembelaaan atas alasan dan tujuan yang ia pilih.
Denpasar usai hari raya nyepi masih terasa lengang. Banyak warga kota mudik ke kampung halamannya untuk merayakan hari raya in bersama keluarganya. Hari raya nyepi merupakan sebuah hari raya yang terbilang unik. Ketika hari raya Nyepi tiba, kota Denpasar dan tempat lain di pulau Bali sepi. Lengang tanpa suara. Tak ada gemuruh suara knalpot yang meraung-raung mengebulkan asap, tak ada hingar-bingar orang berlalu lalang.
Sunyi, sungguh sunyi. Kalaupun ada suara kendaraan melintas di jalan raya, bisa diyakini itu adalah ambulance atau kendaraan untuk sarana darurat lain. Untuk kendaraan-kendaraan itu, memang diberi ijin khusus untuk tetap beroperasi sesuai kebutuhan. Malam harinya, semua gelap. Tak ada lampu yang menyala, kecuali nyala lilin untuk rumah tangga yang mempunyai bayi atau karena situasi khusus yang membutuhkan penerangan semisal ada orang sakit. Suasana hari raya itu begitu khusuk. Walau memang tak bisa dipungkiri terjadi satu-dua pelanggaran karena memang tabiat manusia yang suka melanggar aturan.
Hari belum begitu siang, ketika aku pergi ke wartel untuk nelpon Shelma di Jogja. Ada kerinduan yang memuncak dalam ubun-ubun kepalaku untuk sekadar mendengar suaranya.
Dering bunyi telepon berbunyi diseberang sana. Seorang ibu menjawab dan memberitahukan bahwa Shelmaku sedang terlelap dalam tidurnya. Adakah Ia memimpikan diriku? Bagaimana rupaku dalam mimpinya? Segagah aslinya? Semoga saja. Aku masih belum tau banyak tentang kekasihku ini. Kami saling mencintai tanpa basa basi. Berhubungan cinta kasih tnpa pernah berjumpa. Kesemuanya itu lewat sebuah media interaktif yang sangat memukau diriku. Internet. Yeah. Ketika berada dalam lingkup itu, semua terasa begitu luas, besar dan tanpa batas. Menjadi siapa saja bukan sesuatu yang sulit.
Sebaliknya, yang sulit adalah menjadi diri sendiri seutuhnya. Terlebih melalui pogram relay chat yang populer seperti mIRC. Komunikasi melalui text tak jarang mendistorsi siapa kita, bagaimana kita. Maka kurasa, tantangan terberat bergulat dalam dunia itu adalah menjadi diri sendiri. Bisakah seorang Ale tetap apa adanya Ale walau hidup di dunia cyber? Aku menjawabnya bisa.
Aku telah mencobanya dan aku menjadi diriku sendiri. Sampai satu ketika aku bertemu Shelma, dirikulah yang muncul. Ia pun begitu. Ditambah berbagai kebetulan yang mengiringi, dan dengan kedalaman tekad aku bertekad menyatukan semuanya dalam sebuah tali cinta. Agak sulit menggapainya pada awal mula aku mendekat, namun pada akhirnya aku meraih hatinya. Sungguh ini sesuatu yang luar biasa, ketika aku menghadapi rencana kerja mempersiapkan sebuah tabloid bersama kawan, aku bertemu dengannya yang juga mantan aktivis pers kampusnya. Disaat yang sama batinku membutuhkan sentuhan lembut intuisi perempuan. Aku menemukan semuanya pada diri Shelma.
***
“..if he love you….
….like I love you…..”
When we dance. Sting melantunkannya dengan penuh perasaan.
Lagu itu mengalun lembut dari komputer dalam ruangan 4×5 meter persegi, sebuah warnet yang menjadi langgananku.
Situasi warnet yang sangat personal dan hening membuat lagu itu terasa beda untuk di nikmati.
Sebuah komputer berprosesor pentium 233mmx ada dihadapanku. Sebuah mesin kecil yang telah merubah wajah dunia.
Wajahku juga. Sering aku menjadi pucat karena berlama-lama berinteraksi di dengannya.
Sampai saat itu, aku belum memaknai makna yang tersirat dalam lagu itu.
Keadaan berubah 180 derajat satu jam kemudian.
Perasaanku yang sejak malam sebelumnya gelisah dan When we dance yang
dilantunkan Sting rupanya sebuah pertanda akan sebuah perubahan yang besar.
Shelma dijodohkan orangtuanya dan Ia menyetujuinya tanpa mampu mengelak.
Entah kenapa. Padahal, hari yang sama ketika kami jadian,
Ia pun menuturkan bahwa ia sedang dilamar oleh keluarga kawan ayahnya namun ia berani menolak.
“Semua diserahkan pada Shelma untuk mengambil keputusan,”katanya pagi itu.
Aku hanya bisa bergumam dalam hati,
“Ya Tuhan, dimanakah engkau kini? Ujian apalagi ini?”
Terbayang situasi yang dihadapi Shelmaku. Tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa hingga Ia tak mampu menolaknya. Ini yang aku belum tau. Kupandangi fotonya di web kesayanganku. Terbayang ia menangis. Mata indahnya basah, sembab. Gejolak emosiku meluap. Aku akan menjemputnya. Tak ada kata lain.Aku tak ingin meninggalkannya sendiri, aku tak ingin melarikan diri dari masalah ini. Bukankah jika kami bisa bertemu, kami dapat menghadapinya bersama-sama?
Bukankah ada pepatah berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing? Semua itu ada tentu bukan tanpa alasan. Dalam pikiranku, ketika kami bertemu nanti, kami bisa bahas banyak alternatif pemecahan masalah ini bersama-sama. Bahkan jika perlu menghadapi Ayah Shelma untuk mengutaran perasaan kami sebenarnya.
Orang tua manapun, tetap adalah manusia yang masih bisa diajak bicara. Orang muda mungkin emosional, tapi tidak selamanya salah. Perubahan selalu ada di kaum muda. Dan itu telah kusampaikan padanya. Shelma berkeras melarang, namun terlambat dan tak lagi berguna. Aku telah mengambil keputusan.
Warnet itu segera kutinggalkan. Hatiku bergejolak. Tornado kesayanganku kupacu penuh emosi. Lelaki manakah yang akan terima kekasihnya dijodohkan dengan orang lain? Tamparan yang terasa amat perih di hatiku.
Eh, emangnya hati bisa ditampar?
***
Stasiun Lempunyangan, dua hari kemudian.
Stasiun lempuyangan terlihat ramai pagi itu ketika kakiku menginjakkan kaki untuk kali pertama aku menjalin cinta dengan Shelma di jogjakarta. Situasi di stasin itu tak jauh beda dengan keebanyakan stasiun lain di berbagai kota di bumi pertiwi ini.
Sepanjang peron stasiun dipenuhi pedagang jajan dan oleh-oleh khas kota ini. Disini, bakpia bathok menjadi menu utama. Di semarang, jenang kudus dan wingko babad. Selalu ada yang khas di setiap tempat yang aku singgahi.
Pagi tadi di surabaya, ketika aku transit dan kereta mutiara timur yang berakhir di stasiun gubeng dan hendak melanjutkan perjalanan ke Jogja, aiku sempat meelpon Shelmaku. Apa yang aku dengar tak jauh berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya. Memintaku untuk tidak berangkat dan tadi pagi, memintaku membatalkan perjalanan ke jogja ini. Ia berkeras ingin menghadapi semuanya sendiri. Huh, mana bisa? Bagiku, sekali langkah diayunkan, pantang aku tarik mundur kembali. Aha. Aku jadi ingat komentar seseorang yang kuanggap kakak di semarang, Mbak Herny.
Mbak Herny pernah bilang,
“kekeras kepalaan yang ada padamu..bisa dipositifkan sebagai sikap pantang menyerah…”
Kata-kata yang selalu kuingat…bahwa aku ga boleh gampang menyerah. Sekeras apapun tantangan yang kuhadapi.
Pagi tadi pula, ketika nelpon itu, kembali kupertegas, bahwa aku tak akan surut melangkah.
“Aku akan tetap mencarimu Shelma….” Kutegaskan padanya.
Yah. Hanya ketegasan yang memperkuat nyaliku, yang jujur saja terasa tercabik-cabik. Sebelum kepastian keberangkatanku ke Jogja ini, beberapa kali kami saling kontak. Aku sempat menunda perjalananku sehari. sebuah masalah vital menghadang. Ketiadaan biaya. Aku terhitung sangat boros dalam banyak urusan satu ini.
Tapi selalu menemukan jalan untuk smua itu, walau dengan jalan meminjam. Aku meminjam sama kawanku si Reza, sebesar ongkos perjalananku. Ah…susahnya ia pun menahanku agar tidak berangat segera.
Barang kiriman hasil cardingnya sudah tiba. Dan kenapa menahanku? ia menggunakan alamatku. Sungguh menjengkelkan.
Sempat pula sebelumnya aku mengontak beberapa kawan yang ada di kota ini. Bagaimanapun aku harus perhitungkan banyak hal yang mungkin terjadi, bahkan untuk sekadar menginap. Tak sulit bagiku untuk bermalam dimanapun di berbagai kota. Setiap kota aku punya tempat persinggahan.
Beberapa kali aku mengontak shelma melalui ponselnya. Mati. Hanya suara mailboxnya yang terdengar. Beberapa kali aku mencoba telpon ke rumahnya, oleh yang menerima dikatakan shelma di kantor. blar!! dimana kantornya?
Sungguh brengsek. Ketika situasi membutuhkan, aku bahkan tak tau dimana ia berada dan dimana kantornya. Ah, terlalu asyik masyuknya kami menyelaraskan isi hati sampai hal-hal sepele kayak gini terlupakan untuk ditanya. Cinta membutakan? Apa yang kualami ini, mungkin yang dimaksud.
Dengan keberangkatanku ini pula, aku harus menempuh beberapa pilihan sulit yang aku kalahkan. Si Nico, kawan yang mengajakku memulai usaha Tabloid telah berencana usai nyepi akan menemui calon investor bersama-sama dengan Bowo kawanku yang lain. Kami akan presentasi tentang kesiapan mengerjakan tabloid itu.
Sebelum aku berangkat, persiapan-persiapan kearah sana telah kami persiapkan. Proposal penawaran, Cash Flow, Dummy dan termasuk keuntungan sebuah tabloid. Perhitungan-perhitungan dalam menyusun persiapan tabloid itu pun tak terlepas dari berbagai kemungkinan merugi, walau Nico sangat yakin bisnis ini menguntungkan.
Ia begitu yakinnya karena ia didukung seorang marketing kawan lamanya yang bisa terbilang expert.
Dengan keberangkatanku ini, dua kawanku itu berangkat presentasi tanpaku. Entah bagaimana hasilnya.
“Mas,..Taksi?” seseorang menyapaku. Seorang sopir taksi.
Gelagapan aku tersadar dari lamunanku di bangku biru yang ada di stasiun itu. Seorang sopir taksi tersenyum ramah menawarkan jasa.
“O..Ngga pak. Terimakasih. Saya mau ngopi dulu.”
Kutampik tawarannya sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaannya. Aku ingat bahawa aku saat ini di jogja. Menurut cerita filsafat yang pernah aku baca, karakter orang Jogja bisa di lihat melalui Blangkon yang dikenakannya, yang mempunyai gundukan di belakang. Filosofinya, di depan mereka akan tampak halus, dan jika punya ganjalan dalam hati akan dipendam dalam hati. Entah benar atau ngga, aku ga tau pastinya.
Yang jelas, takkan ada asap tanpa api.
Kutinggalkan stasiun itu. Kakiku melangkah keseberang jalan stasiun. Disana terlihat ada sebuah wartel dan didepannya beberapa warung kopi. Rasanya aku perlu mempersiapkan dan memikirkan banyak hal sebelum melanjutkan langkah.
Sambil menunggu kopiku disiapkan, kusempatkan kembali nelpon Shelma. Lagi-lagi mailbox. Kutelepon tiga kawan lain dan mengabarkan aku sudah disini, dua diantaranya siap menjemput. Luar biasa. Ketika semua itu sudah selesai, kulihat segelas kopi telah menantiku. Aku berusaha menikmatinya.
Sambil berusaha mencari, aku singgah di warnet seorang kawan. warnet itu berada di sebuah paviliun rumah besar yang menjadi markas anak-anak austnet Jogja. sambil menunggu perkembangan dan terus mencarinya, aku berjumpa beberapa kawan.
ah….berat nerusinnya….
=======
“Bagaimana Mbak? selesai membacanya?”
Suara lembut perempuan muda disampingku menyadarkanku dari diamku usai membaca tulisan di layar monitor kumputer tua ini.
“Iya..selesai..Tulisannya tak selesai.”
“menurut Mbak Shelma bagaimana dan apa baiknya?”
“Entahlah mbak. Saya bingung. Terlalu cepat semua terjadi. Apa yang Ale Tulis itu semua benar. Hanya, beberapa hal ia lupa tulis. Entah jika ia ingin melewatkan bagian-bagian itu atau memang belum seluruhnya tuntas”
“Mungkin Mbak Shelma ingin mengatakan sesuatu?..”
Ah sulit bagiku. Benar, keadaaan berjalan begitu cepatnya. Siang tadi Bu Min, seorang yang menyapaku di depan pintu terhenyak mendengar namaku kusebutkan. Rupanya banyak kejadian disini dan namaku telah begitu sering disebut di rumah Kost ini.
Ale tidak lagi tinggal disini, namun seluruh barang miliknya masih disini. Seorang perempuan muda ada dikamarnya. Ia memperkenalkan diri sebagai Ayudya yang tak kalah terhenyaknya ketika kusebutkan namaku. Pikiranku kacau. Ada apakah ini?
Sesaat kemudian aku dipersilakan masuk ke kamar kost Ale itu.
Ruangan yang tak terlalu besar, sebuah komputer, lemari palstik dan satu lemari lain penuh dengan jajaran buku. Tapi dimanakah Ale? Jika semua barangnya ada disini, kenapa Ia tidak tinggal disini? Apakah ia sedang pulang ke Jakarta? Dimanakah dia? Sungguh tak adil. ketika aku ingin bertemu dengannya, Ia tidak ada disini. Terlambatkah aku?
“Mbak.. sebenarnya dimana ale? trus gmana status kost nya ini?,” aku berusaha bertanya dan menyelidik tentang ale. Mbak Ayu, yang berbicara denganku ini adalah putri dari Bu min yang tadi menyambut kedatanganku di rumah kost ini.
Ale sudah pernah bercerita tentang situasi kost nya. Tentang ibu kost, keluarga ibu kost dan orang-orang yang tinggal disini. Jadi, bukan sesuatu yang terlalu asing buatku. Ketika tadi aku memperkenalkan diri, mereka pun sepertinya tidak terlalu terkejut dan sudah menduga kedatanganku. Entah apa yang sebenarnya terjadi aku belum sepenuhnya paham.
Mbak Ayu terdiam, matanya tampak tak terlalu yakin tentang apa yang dipikirkannya. Sampai akhirnya ia mulai membuka mulut, dan perlahan-lahan bercerita.
“Mbak shelma…sebenarnya kami disini sudah tau kalo mbak mau datang..”
“Kok bisa…gimana bisa,..”selaku. Tapi tatap matanya berubah, berharap agar aku tidak memotong bicaranya.
“Mbak..tentang hubungan mbak dengan mas Ale, kami sudah tau semuanya. Bukan semua yang tinggal disini, tapi ibu, bapak dan saya. Mas ale dah kayak keluarga disini. Bukan orang lain. Jadi kalo ada apa-apa,ia selalu terbuka sama kami..”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,..
“Tentang hubungan dengan mbak, sebenarnya ini perkecualian. Mas Ale sepertinya tidak ingin ada yang tahu. Dia tidak pernah cerita pada siapapun. Ini kelakuan dia dari dulu. Kalo ada masalah dia selesaikan dan hadapi sendiri, ga cerita-cerita. Tapi klo dapet rejeki lebih, semua pasti tau karena ia agak royal dan ga pelit masalah duit. Tapi, hari hari terakhir itu, mas Ale agak aneh. Beberapa kali menghilang dan pulang-pulang kusut. Beberapa kali seperti itu dalam satu bulan, dan dia agak berubah jadi lebih pendiam dibanding biasanya.”
Kembali ia berhenti sejenak, mengambil nafas. Kali ini agak panjang.
“Trus ibu setelah rundingan sama saya, mengambil inisiatif untuk menanyakan langsung ke mas Ale, ada apa…karena masa se kalo seneng dibagi-bagi tapi kalo susah dia muram sendiri. Atas dasar itu ibu nanya langsung ke mas Ale…dan sesegukan…mas ale cerita tentang mbak…sampe nangis nangis…dan ibu dipeluk…”
Oh…sebegitunya…aku ga menduga bahwa lelaki itu bisa nangis…tapi aku pun kurasa mataku mulai sembab..
“Nah mbak..sejak itu mas Ale bisa mulai senyum lagi walau ga kayak dulu-dulu. Dan satu hari, mas ale pamit ke ibu mau pergi jauh katanya. Dia ga bilang mau kemana..tapi dia berjanji akan kembali..tentang kost ini, dia ga mau melepas. Kamar ini terus dibayar sama dia sampai sekarang. Saya dipasrahi untuk merawat kamar ini, dan pesannya ke saya dulu, kalo mbak datang diminta buka komputernya. Katanya ada cerita untuk mbak. Kami ga pernah ngidupin kompuetnya, karena kami ga tau gimana ngidupinnya. Kami pun ga tau dia dimana karena dia hanya transfer uang lewat bank saya. Semua ini dia lakukan, karena dia yakin banget kalo mbak mau datang. Karena itulah kami pun yakin kalo mbak mau datang….”
Ya ampun..begitu yakinnya dia padaku? Bahkan begitu yakinnya ia meyakinkan orang lain tentang cinta kami? Sungguh. Ini semua diluar apa yang kuduga. Beberapa kali aku menduga dan berburuk sangka, ah paling dia udah menemukan orang lain…namun ternyata, sungguh diluar apa yang aku pikirkan.
***
Sejak itu, aku memutuskan hidup di Denpasar. Sempat beberapa kali pulang ke Jogja, tapi itu hanya untuk mengurus beberapa berkas yang kuperlukan di denpasar ini. Aku mengajukan mutasi kerja, dan di setujui oleh pimpinanku. Jadilah aku menjadi warga baru kota denpasar yang kurasa asing pada awalnya namun ramah belakangan hari.
Aku tinggal tidak terlalu jauh dari kost Ale. Ini kusengaja agar aku tidak terus menerus terbayang dia. Aku mulai merasakan sesuatu yang membahagiakan. Sesekali dalam seminggu atau hari-hari dimana aku senggang, aku menginap dan tidur di kamar Ale. Bu min dan keluarganya tak lama menjadi akrab denganku. Mereka memperlakukan aku dengan sangat baik dan hati-hati. Namun tak jarang aku tangkap bahwa ada tatapan pilu dan kasihan terhadapku. Aku memakluminya.
Hari-hari berlalu tak terasa, waktu berjalan dengan cepatnya.
Dalam penantianku, terkadang aku merasa jenuh. Terkadang bosan dan ingin rasanya berpaling pada laki-laki lain, yang rasanya aku tak akan sulit mendapatkannya. Uhm..sombongnya aku. Dan ketika perasaan itu muncul, aku ga tau apakah benar itu permintaan hatiku atau bukan, apakah makna itu yang di bisikkan hatiku yang terdalam. Kebingungan kemudian datang tanpa permisi yang membuatku diam dan hanya memandangi raut mukaku dan basahnya kelopak mata dalam cermin di depan meja riasku. Aku teramat sangat mencintainya, dan aku terus harus menjalani perasaan ini. Tanpa bisa kuabaikan atau kupungkiri.
***
Dan penantianku itu sampai pada satu siang. Tidak biasanya Mbak Ayu menelponku di kantor, dan mengabarkan sesuatu yang penting. Dia memintaku untuk ke kost Ale, segera.
“Penting mbak…tentang Mas Ale…”
Hatiku berdebar. Datangkah dia? Uh..hatiku tak menentu…aku telah sangat lama menantikannya..tapi siapkah aku? Siap siap siap…aku harus siap. Aku menyemangati diri.
Perjalanan menuju kost Ale terasa lama…padahal jalan-jalan di Denpasar ini tidaklah seperti jogja atau jakarta yang selalu padat. Cukup lengang, namun bagiku tiap detik terasa begitu lamanya. Benarkah dia datang? Apa yang akan kukatakan? Kalimat apa yang akan ku katakan? Dear I miss you? Ale..aku sayang kamu? Ale aku rinduuuu banget sama kamu?…..ale maafin shelma? ah…..
Begitu tiba di kost ale, aku terhenyak. Tidak ada sesuatu yang luar biasa sepertinya sedang terjadi. Aku terus melangkah, dan makin dekat ke kamar ale, semakin tidak menentu rasanya hatiku. Berat betul kurasa kakiku melangkah. Tapi hatiku terus berteriak…ayo shelma….temui..temui….
Semakin dekat, aku tidak mendengar suara yang mengundang perhatian selayaknya sesorang yang datang dari jauh. Ah, aku dengar ada suara mbak Atik didalam dan seorang laki-laki lain…mungkinkah itu Ale?…
Di depan pintu aku terdiam. Dua orang dalam kamar itu pun terdiam. Kudapati mbak Atik dan sesorang lain seperti sedang berkemas. Dia bukan Ale. Aku terdiam, menatap keduanya. Kurasa ada kesedihan di mata keduanya, dan mbak atik menatapku tanpa sepatah kata…terdiam…smua bisu.
“mbak…” aku lirih memanggilnya.
“Mbak shelma…ini..ini aldi, adiknya mas Ale…” terbata-bata ia bicara…
Lelaki itu aldi, adiknya Ale. Oh, aku ingat bahwa memang Ale memiliki dua adik. Satu perempuan, satu lelaki.
Seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan, Aldi segera menghampiriku…dan memperkenalkan diri…
“Saya aldi, dan saya sudah tau tentang mbak..”tegas, namun terdengar berat.
Aku terus terbisu, aku hanya menatapnya..tanpa mampu berkata kata…kuharap ia tahu, aku sedang menunggu kabar tentang kakaknya.
“Mbak..”lirih ia memanggilku.
“…”
“Mas Ale sudah ga ada…”
Oh……..kabar apa iniiiii….kurasa semua tiba-tiba menjadi gelap….ya allah….
***
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ketika terbangun, kurasa hari telah gelap. beberapa oang duduk di samping tempatku berbaring. Aku masih belum mampu berfikir ketika mataku menatap mereka satu persatu. Bu min, Mbak Ayu, dan aldi. Semua dalam rona duka.
“Mbak…”Aldi mulai bicara.
“Mas Ale sangat mencintai mbak. Berulang kali mas nyebut nama mbak dalam sekaratnya. Mas Aldi menderita kanker otak yang sudah akut. Dia sudah tau ini akan terjadi. Hanya memang, dia tak pernah membicarakannya. Kami hanya tau satu hari ada teman kerjanya ngabari bahwa mas Ale pingsan di proyek setelah sempat marah-marah ke tukang-tukangnya. Selama ini mas aldi merindukan mbak. Dia pergi dan merantau kemana-mana, sampai akhirnya kembali ke jakarta. Dan dijakarta ia bekerja bersama teman lamanya sebagai kontraktor. Setau saya, dia tidak pernah bersama perempuan lain. Ketika ibu bertanya kapan nikah, ia hanya menjawab mey….ah meybi yes meibi no. Tapi mas pernah bercerita bahwa jika tidak sama perempuan yang dia cintai. Dia tidak akan menikahi perempuan lain selain shelma. Nama mbak menjadi tanda tanya besar dalam keluarga kami. Dia jarang bercerita.
Menjelang kematiannya, dia beberapa kali mengigau memanggil-manggil mbak. Namun, kami ga tau siapa mbak. Dimana mbak dan bagaimana hubungan mbak dengan kakak saya. Tapi jangan kuatir mbak, kalimat terakhir sebelum meninggalnya adalah kalimat syahadat. Doakan mbak, agar mas tenang. Dan akhirnya kami tau setelah mas meninggal. Kami beranikan diri membuka catatan-catatan dan buku pribadinya. Selama ini, kami tidak ada yang berani menyentuh wilayah pribadi mas. Dia selalu marah jika ada yang mendekati barang-barang pribadinya. Dia ngajari kami tentang privasi dan bagaimana kami harus menghormati privasinya. Juga ke tiap orang.
Mas selalu terbuka mbak, setiap ada persoalan dengan kerjanya atau masalah lain ia bercerita ke kami. Entah kenapa, rasanya dulu dia ga begitu. Tapi tentang mbak, sekali lagi, rasanya dia tak pernah bercerita.”
Aldi berhenti bicara. Di tegugnya kopi yang ada di meja. Lalu dia berdiri, dan seperti ingin mengambil sesuatu dari dalam sebuah tas. Sebuah buku. Buku harian.
“Mbak, ini..ini buku harian mas Ale..” diulurkannya buku itu kepadaku. Aku terima dan kubuka perlahan-lahan.
Buku itu buku harian serupa agenda. Dari sampulnya aku tahu itu terbitan 2003. Masih sangat rapi, nyaris seperti baru.
Halaman pertama, kubuka dan tertulis,.”Ale untuk Shelma”. Sebuah coretan tebal dan kasar. Membacanya, kurasa kembali mataku basah. Tak kuasa aku menahannya. Semua yang ada di kamar itu terdiam.
Aku buka halaman selanjutnya, kosong. Kubuka lagi, kosong. Sampai aku mencapai halaman tertanggal 9 September.
Kubaca,
“9 September 2003, Selamat ulang tahun shelma ku. Aku mencintai kamu!”
“9 September 2004, Shelma, kamu tambah usia sayang…I love you!”
“9 September 2005, Bagaimana kabar setahun ini sayang? Selamat ulang tahun! I love you!”
“9 September 2006, Sungguh aku merindukanmu…selamat ulang tahun shelmaku….”
Hanya itu. Tahun 2006 menjadi ucapan selamat yang terakhir darinya. Halaman lain, kosong. Ya allah, apa artinya ini buat aku. Sungguh aku ga mengerti. Aku hanya bisa menangis. Sungguh…aku ga tau apa makna semua ini.
Aldi beringsut dan berdiri. Ia berjalan pelan menuju pintu, dan menoleh kearahku.
“Mbak..besok saya pulang, barang-barang mas Ale sudah saya kemas. Mbak ikut kan…?”
Hanya anggukan yang bisa kulakukan. Selebihnya, duka.
***
Pagi, di pekuburan tua, aku melihat satu unggukan kuburan yang tanahnya masih basah, bunga-bunga yang bertaburan diatasnya mulai layu. Kutahu itu kuburan ale. Alfian Eto’o (ALE) LAHIR 2 NOVEMBER 1976 MENINGGAL 1 sEPTEMBER 2007. Meninggal delapan hari lalu, dan sekarang,..oh..hari lahirku. Aku, lagi lagi tak mampu berkata-kata…kakiku terasa lemas…dan aku jatuh bersimpuh di kuburan itu. Aku tak tau apa-apa lagi. Sungguh aku tak tau apa-apa lagi.
(Tamat)
Arsip Lama – Dikumpulkan kembali untuk dokumentasi sekaligus mengenang inspiratornya. Pernah di publish di http://bluefame.com/
Artikel Yang Mungkin Terkait
- Bukan Dongeng Terindah Tentang Cinta (1) Hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning mengelilingi bangunan yang masih tampak baru itu. Beberapa...
- Bukan Dongeng Terindah Tentang Cinta (2) Memang benar kata orang, ketika kita saling bercinta, dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak....

