Corat Coret

Menulis dan Berkomentar Tentang Apa Saja

Feb

16

Beberapa Catatan Tentang Pramoedya Ananta Toer

Beberapa Catatan dari Diskusi Peringatan 1000 Hari Meninggalnya Pramoedya Ananta Toer akhirnya bisa juga aku tulis. Tersendat cukup lama, namun lebih baik daripada tidak sama sekali. Apa saja point-point penting itu?


Jika menuruti harus membuat catatan yang lengkap, rasanya disini terlalu berlebihan mengingat telah begitu banyak ulasan tentang pemikiran Pram beredar. Demikian juga jika kita menyingkap riwayat hidup dan karya sastranya. Setiap buku Pram yang diterbitkan, melampirkan daftar riwayat hidup dan daftar judul bukunya. Jadi, rasanya apa yang ada disana, lebih dari cukup.

Menjadi mitra diskusi pada kamis 12 Februari lalu adalah Agung Tri, Direktur Elsam yang juga sekaligus adalah Caleg DPR RI dari PDIP. Rupanya, Gung Ti ini memiliki kedekatan khusus dengan Pram dan beruntung menyimak banyak penuturan Pram kala sang Maestro masih hidup. Pada pertemuan pertamanya dengan Pram, Gung ti ditanya, “Kenapa mau belajar sejarah?”

“Banyak yang saya tidak tahu selama ini pak”.

“Belajar sejarah bukan untuk tahu banyak. Sejarah adalah tempat kita pulang.” jawab Pram.

Setiap karya tulis yang dilahirkan Pram, adalah cerita sejarah. Sejarah dengan bahasa sastra atau sastra tentang sejarah. Keduanya sah, dan yang sangat jelas adalah keberpihakannya pada sejarah Indonesia. Sejarah yang sebenar-benarnya, bukan atas pesanan atau orderan penguasa. Selama hidupnya, sang Maestro dikenal selalu berseberangan dengan setiap rezim yang berkuasa. Setiap rezim yang berkuasa, pernah menjebloskannya dalam penjara. Dari penjara ke penjara, dari pengasingan ke pengasingan. Walau begitu, justru disanalah panji-panji kebesaran Pram tumbuh. Karya-karya besarnya tercipta pada masa-masa sulit. Sangat bisa dimaklumi, karena jaman sekarang pun begitu. Jika seseorang sedang patah hati misalnya, rajinlah dia mengisi buku harian dan melahirkan banyak coretan yang mengekspresikan perasaannya.

Tapi membandingkan situasi yang dihadapi Pram dengan orang yang sedang patah hati tentu sangatlah tidak proporsional. Selain karena kekuatan hati dan mentalnya, pram sama sekali tidak patah hati. Justru kekuatan pikiran dan kecintaannya pada negeri ini semakin kuat. Kekecewaannya pada rezim orde baru misalnya bersumber pada satu hal utama, yakni mereka menghancurkan karya tulisnya menghancurkan catatan sejarah bangsa yang sedang disusunnya. Catatan tentang ini bisa disimak dalam surat terbuka Pram kepada Keith Foulcher seperti termuat di radix.net. Orde baru, menghancurkan sebuah kebudyaaan untuk membangun kebudayaaan baru. Yang itu pun, sama sekali tak berkarakter. Bung Karno, katanya, tak menumpahkan setetes darah pun untuk membangun dan menyatukan tanah air ini. Jaman Orba? Jangan ditanya!

Selain nyaris semua karya besar Pram berasal pada era tertindas dan kejengkelannya pada rezim orde baru, catatan lain adalah tanda tanya besar tentang status legal karya Pram saat ini. Apakah masih dilarang atau sudah di ijinkan? Yang terjadi sekarang adalah situasi setengah hati. Dilarang tidak, di ijinkan juga tidak tapi dibiarkan beredar. Entah apakah akan dijadikan alasan untuk memberangusnya kembali kelak? Ngga jelas! Rezim yang ga jelas orientasi kebudayaannya selalu menghasilkan situasi yang ga jelas dalam berbudaya.

Dalam diskusi ini juga terungkap tentang kekaguman Pram pada sosok-sosok yang berani melakukan terobosan dan kemampuan merubah sejarah. Bangsa ini, belum sepenuhnya bisa begitu, masih hanya bisa berkembang biak. Hanya beberapa sosok anak negeri ini yang mengundang kekaguman Pram, yang sanyangnya aku lupa namanya. Hehe.

Catatan lain adalah penempatan perempuan yang nyaris selalu berada pada posisi sentral ceritanya. Perempuan di simbolisi sebagai central sebuah kebudayaan.Dalam salah satu bukunya pram bercerita tentang pencariannya pada beberapa perempuan yang menjadi korban tentara jepang dan terbuang di pulau buru. Dengan susah payah, akhirnya ia menemukan beberapa nama yang masih hidup. Perempuan adalah central kebudayaan yang harus dijaga dan diselamatkan.

Pram, walau kata orang kau telah meninggal dan jasadmu telah di kebumikan, tapi untuk kau tau, pikiran dan warisanmu akan selalu hidup! Dalam diriku salah satunya!

Menulis selesai. Oya, coratcoretdotcom tetap mendukung Kampanye Damai Pemilu 2009, walau sebenarnya pemilu hanyalah omong kosong besar!

  • Share/Bookmark

Artikel Yang Mungkin Terkait

  1. Semua Tentang WS.Rendra Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan media massa tentang meninggalnya Mbah Surip yang mendadak dan kesibukan polisi...
Artikel ini ditandai dengan tag diskusi, Indonesia, Politik, Pramoedya Ananta Toer, Sastra

2 Komentar

Sbenernya pengen ikut diskusi tp sayang aku telat baca infonya di milis.
Menurutku Pram tidak pernah berpihak pd siapa2 kecuali pada HUMANITARIAN. Pihak2 tertentu aja yg senang sekali menjadikan Pram berpihak ke kiri ato ke kanan.
Sori kalo komentarnya banal. Otak ini emang smakin lama smakin berkarat.

Salam.

Trackbacks & Pingbacks

I GUSTI AGUNG PUTRI ASTRID KARTIKA | Corat Coret

[...] yang sudah aku masukkan dalam kategori ini adalah Pramoedya Ananta Toer. Kali ini? Tak bukan adalah salah satu Caleg perempuan dari PDIP di Bali, yakni I Gusti Agung Putri [...]

Tinggalkan Komentar Balasan

icon_wink.gif icon_neutral.gif icon_mad.gif icon_twisted.gif icon_smile.gif icon_eek.gif icon_sad.gif icon_rolleyes.gif icon_razz.gif icon_redface.gif icon_surprised.gif icon_mrgreen.gif icon_lol.gif icon_idea.gif icon_biggrin.gif icon_evil.gif icon_cry.gif icon_cool.gif icon_arrow.gif icon_confused.gif icon_question.gif icon_exclaim.gif